Monday, 3 June 2013

Surat Untuk Rantau-Net


Yg terhormat Dunsanak kasado alah e...

Maaf ambo sato juo baliak, tapi mungkin iko nan terakhir, sebab bagi ambo perdebatan iko ndak produktif lai. Sebab diantaro awak nan babeda pandapek, batahan di masiang masiang posisi. Itu bagus, aratinyo awak SEPAKAT UNTUK TIDAK SEPAKAT. Sah. itulah demokrasi minang. Namun ado suatu hal yang alun ambo sampaikan, yaitu soal Pak MN dan Irman, Pak MN iko adalah orang tuo, umuanyo alah sepuh, samantaro Uda Irman itu masih 50-an saumua jo anak dan minantu Pak MN sendiri. malah Antaro Uda Irman dan Uda Indra Jaya Januar itu pernah babisnis basamo. Labiah dari itu, Pak MN ko pernah pulo basamo samo jo Irman di MPR dan DPD. 

Bagi ambo nan cukuik disasai adalah, kenapa Pak MN mambuek surek terbuka iko, itu kan samo jo artinyo mampamalukan Irman ditangah balai rami. Sebagai orang tuo Pak MN bisa mamanggia Irman, atau bahkan mendatanginyo, tokh kalau Pak MN datang ka DPD itu beliau indak ka dipareso Satpam bagai do mah, sebab 10 tahun di Gedung Senayan, tantu lah hafal Satpam jo wajah orang tuo awak ko. Tapi kok hal itu tidak dilakukan Pak MN ?, beliau lebih memilih membuka ke ranah publik suatu hal yang (bagi ambo) belum sepatutnya disampaikan ka muko umum saat belum menjadi konsumsi umum. antah kok manuruik Pak MN babeda. 

Namun apo yang dilakukan Pak MN ?, manuruik ambo adalah memberi pukulan pada Irman ditangah orang rami. bagi ambo ndak arif hal itu dilakukan. Pak MN ko memang luruih, tapi tantu ndak etis pulo caro mode itu dilakukan thdp Irman. Ambo bicara dengan Irman itu lamo di ruangan beliau, ambo danga kalimat beliau soal Lippo ko, soal kehadiran di acara Ground Breaking itu. 

Orang Minangkabau adalah orang yang besar dari berdialektika, berdebat dan berseteru kalimat. Minangkabau terkenal sebagai gudangya intelektual dan juru runding andal. Hatta dan Syahril pernah berdebat, Natsir dan Aidit juga melukan itu. Namun keduanya tidak saling mempermalukan. Elegan cari yang mereka pakai, YANG TUA MENGHARGAI YANG MUDA, YANG MUDA MENGHORMATI YANG TUA, itu prinsip, kalau saling hormati dan menghargai itu yang tidak, ada itu artinyo alah NDAK BAPAMATANG SAWAH LAI. samo je kasado alah e... Kami nan mudo mudo ko kok salah, jan lah disorak an ditangah pasa rami, namun panggia, pilin pusek e sampai ta angkek tapak kaki e tu, labiah bisa kami tarimo daripado disorak i ditangah pasa, ilang lo parasan kami, ketek pulo jadinyo nan tuo tuo itu dek kami. Dewasalah bersikap. kalau istilah awak awak mudo kini, KOK KITA SEPERTI ORANG YANG KURANG PIKNIK YA...??? he he he

Ambo minta maaf ka Pak MN babeda pandapek bagi ambo biaso, pun ka palanta ko ambo juo minta maaf, ambo kiro ikuiknyo ambo bakomentan di RN sudah membuka ruang dialog dan memberi wacana lain, semoga. 

Kapado Pak Syaaf Bahar, Mak Ajo Buyuang (ZB), Mak Uncu Dutamardin, Pak Sutan Sinaro, Uda Ibnu Kamang, Mak Ngah Syamsir Syarief, Uda Miko, Sutan Nofend, Sanak Reza dan kadaso alah e. ambo pamit kambali duduak di suduik lapau, bialah kami mandanga je, sato galak kalao ado nan lawak, atau taibo kalau ado ado nan sadang manangih. 

Salam hormat dari Ambo salam takzim untuak para orang tuo.
Billahitaufik wallhidayah
Wassalamualaikum Warrahmatullahiwabarakaatuh

Sunday, 2 June 2013

LIPPO GROUP DAN MOCHTAR NAIM


Beberapa hari yang lalu, saya membaca sebuah Surat Terbuka dari Cendikiawan Dr. Mochtar Naim yang ditujukan kepada H. Irman Gusman Ketua DPD-RI yang juga anggota DPD utusan Propinsi Sumarera Barat. Surat tersebut, beredar dan menjadi bahan perdebatan di milis Rantau Net tempat dimana Pak Mochtar Naim menuliskannya pertama kali. Bagi saya apa yang ditulis oleh Mochtar Naim itu sangatmenggoda untuk dikomentari. Seiring berita tentang investasi Group Lippo di Kota Padang yang telah juga menjadi pro dan kontra. Surat Terbuka itu ditujukan kepada Ketua DPD RI, Irman Gusman, yang berisi tuduhan dan sindiran keras.

Setelah mencermati paragraf demi paragraf dari Surat Terbuka tersebut, saya akhirnya memberikan beberapa catatan penting.  Hal itu saya lakukan bukan bermaksud untuk membela Group LIPPO, Irman Gusman atau bahkan bersetuju dengan Dr. Mochtar Naim, tetapi hanya ingin menyumbangkan pemikiran atas perkara yang sedang dihadapi.


Saya tidak punya kepentingan apa-apa terhadap persoalan pembangunan RS Siloam dari Group Lippo di Jalan Khatib Sulaiman itu, namun tulisan Dr. Mochtar Naim menurut saya terkesan tendensius dalam menyampaikan maksud. Sungguh tulisan itu berbeda dengan tulisan Mochtar Naim selama ini. Tulisan itu menilai James T. Riady Pimpinan Group Lippo menjalankan misi kristenisasi di bumi Ranahminang.


“Semua orang tahu, bahwa RS Siloam dan sekolah tersebut adalah bahagian yang tak bisa dilepaskan dari upaya James T Riady, sebagai bahagian dari upaya kristenisasi yang dilakukannya di mana-mana.”


Kalimat ini sangat tak patut keluar dari salah seorang sosiolog, cendikiawan yang sangat dihormati di jagad akademik. Tokoh sekaliber Mochtar Naim rasanya tidak patut untuk menulis seperti itu, dan juga saya sangat menyayangkan bisa terjebak dengan anggapan itu. Sungguh bukan sebuah tulisan yang elok.


Saya mengenal Pak Mochtar Naim secara dekat, sejak ia menjadi Ketua DPW Partai Ummat Islam (PUI) Sumbar 1998-2000. Bahkan saat ia menjadi anggota MPR-RI dan anggota DPD RI. Tidak itu saja, saya juga mengenal keluarga besarnya. Atas dasar itu, Saya terkejut, sekaligus kecewa ketika Surat Terbuka diupload ke milis, kenapa pemikiran orang yang saya kagumi itu bisa seperti ini. Ada apa?


Saya sangat menghormati Mochtar Naim. Ia inspirasi anak muda seperti saya. Ketika rezim orde baru berkuasa, ia memiliki sikap yang mampu membawa magnet idealisme anak-anak muda seperti saya untuk melawan. Artinya, ada alasan tertentu bagi seorang Mochtar Naim sampai pada silogisme yang demikian pada Surat Terbuka itu. Tetapi, jika saya ingin setuju dengan pendapat itu, Mochtar Naim  haruslah memaparkan bukti konkrit dari apa yang telah dituduhkan kepada James T. Riady. Kalau tidak ada, minta maaflah! Tidak elok, menuduh seperti itu.


Iman dan Investasi


Kita telah memilih jalan pasar bebas! Sebuah sikap siap tidak siap menerima bagaimana pasar itu berhak untuk siapa saja yang siap menawarkan kehadapan public, yang tentu saja semua harus dimulai dan beranjak dari aturan-aturan yang berlaku serta mesti kita hormati. Bukankah kita orang Minangkabau ini terkenal sangat Egaliter dan itu selalu yang dibangga banggakan.


Ketakutan atas misi kristenisasi di Ranahminang patut dimaklumi dan itu menjadi ranah lain,  tetapi soal investasi adalah domain lain. Kita tidak bisa mencampur-adukannya tanpa menggunakan akal sehat? Rancu jadinya nanti jika kita mencampur adukkan antara sebuah aktifitas ekonomi dengan isu isu SARA. 

Investasi Group Lippo, seperti diberitakan media massa, mencapai Rp. 1,3 Triliun --- sebuah angka yang besar. Mengucurkan dana sebesar itu, bukan perkara mudah dalam konteks hari ini, apalagi di ranahminang. Dimana isu gempa, isu tanah ulayat, terus menghantui investor. 


Tidak itu saja, effect dari investasi sebesar itu nantinya diberitakan akan akan mampu menyerap paling tidak 4000-an tenaga kerja dalam berbagai bidang. Mulai dari dokter, perawat, tenaga professional bidang perhotelan dan segala macamnya. Dalam konteks ini, ia menjadi ranah ekonomi pembangunan yang positif! Rembesan sebuah badan usaha besar yang hadir, akan mempengaruhi harga properti di Kota Padang. Besar kecil akan terimbas tentunya. Ini adalah harapan besar bagi anak kemanakan yang hidup di tanah penuh terror bencana ini.



Jika saja pihak Group Lippo mulai memikirkan isu sensitif ini, lalu menarik diri, dalam bahasa anak mudanya Ngambek  lalu membatalkan investasinya, bukankah ini bisa memupuskan harapan besar itu? Saya sampai bercanda dengan teman, Kemana uang itu akan kita cari dan bagaimana pula rasa hati anak anak yang berharap akan mendapatkan pekerjaan.


Gerakan Lippo Group yang bersedia menanamkan uangnya untuk berinvestasi di Sumbar, secara tidak langsung juga akan member stimulus bagi investor lain agar penanaman modal di Sumbar terus bertambah dari waktu ke waktu. Angka kemiskinan dan pengangguran bisa ditekan. Ingat, gempa bumi 2005, 2007 dan 2009 telah meluluhlantakkan keadaan. Tidak hanya bangunan tapi juga mental anak kemanakan.


Lalu, apakah kita bisa terpancing saja dengan isu SARA seperti Kristenisasi ini? Mana bukti atas ketakutan itu? Kita tanpa sadar mencerabut diri dari akar pemikiran ranah sendiri, yang bisa menerima perubahan. Apakah dengan pembangunan Sekolah Pelita Harapan, RS Siloam, sebagai alat untuk mengkristenkan orang Minang? Naif sekali tuduhan ini. Begitu mudahkah aqidah kita berubah?


Soal data Pak Mochtar tentang turunnya angka penganut Islam di Sumbar, tidak sepenuhnya bisa dipercaya disebabkan oleh adanya kritenisasi, bisa jadi jumlah kelahiran factor lain. Seperti angka kelahiran dan perpindahan penduduk. Pak Mochtar tentu tahu bahwa kesulitan ekonomi di kampung menyebabkan banyak diantara sanak saudara kita bermigrasi ke daerah lain mencari penghidupan. 


Cobalah cek ke RS Siloam yang sudah ada, apakah ada pasien muslim yang dirawat di RS itu lalu kemudian mengganti aqidahnya seusai dirawat ? Bahkan kalau tidak salah, salah satu putra Pak MN Uda Emil Naim pernah pula dirawat di RS Siloam Gleneangles dulu. Puteri beliau Meuthia juga lahir di Mount Elizabeth Hospital Singapura, ia tetap muslim sampai saat ini bahkan berhijab. Tidak ada yang salah dengan RS Siloam itu. Tidak ada. Ini investasi bukan pekerjaan sesat. 


Tuduhan ke Irman Gusman

Lalu soal tuduhan kepada Irman Gusman, politisi Ranahminang yang juga Ketua DPD-RI itu, terlepas dari pandangan masih ada kekurangan yang mungkin saja masih terasa, tetapi paling tidak, ada yang patut dibanggakan dari ranah ini. Masih ada putra terbaik yang menjadi penerus dari orang-orang besar dari Ranahminang ini.

Pak Mochtar memang menggunakan kata “Kalaupun” namun, alangkah terkejutnya kita, ada kalimat seperti itu dari Pak Mochtar Naim terhadap Irman Gusman. Irman dalam surat Pak Mochtar ditakutkan menerima bantuan terkait dana dari Group Lippo untuk menjadi Calon Presiden. Sinyalemen ini sangat terasa lebay dan tidak mendasar.

Saya kenal Irman Gusman juga seperti mengenal Mochtar Naim. Bahkan saya mengenalnya lebih dekat dari Pak Mochtar Naim mengenalnya. Meski keduanya pernah bersama-sama di DPD. Membaca buku Irman Gusman yang ditulis Uda Hasril Chaniago, kita tahu, Irman Gusman itu anak orang kaya. Dia sudah punya uang berlebih semenjak kecil. Menjadi Calon Presiden yang dilakukannya saat ini adalah untuk berbuat pada negerinya. Apa kita tidak bisa sedikit berbangga atas ini.

Saya juga tidak yakin Irman Gusman terpilih! Catat itu.  Jujur saja, seperti yang pernah ia sampaikan kepada saya, meski 100 persen pemilih Sumbar memilih Irman Gusman sebagai Presiden pada pilpres 2014 yang akan datang, tidak jaminan dia akan menang di Pilpres. Saya pribadi melihat langkah Uda Irman Gusman adalah langkah untuk menunjukkan dan mengajak anak-anak muda lainnya untuk maju, agar tercipta regenerasi politik politisi di NKRI ini. 

Rasionalitas Persoalan

Atas semua itu, kita memang akhirnya dituntut tidak sekedar menerima berita sekilas dan langsung menelannya bulat-bulat. Investasi punya cara kerja tersendiri dalam kehidupan ini. Sementara, iman ada di dada dan jadi pegangan diri. Dua hal yang berbeda tidak bisa serta merta punya hubungan yang linear. Kalaupun ada, kita patut curiga dan menyelesaikannya. Tidak bisa menduga dan memvonis sesegera mungkin.

Kearifan budaya kita menghendaki kita agar cerdas menyikapi masalah. Tidak mudah diprovokasi dan terpancing emosi yang justru akan merugikan lebih banyak pihak. Bisa kita bayangkan, pembangunan Mall, Hotel, Sekolah dan Rumah Sakit ini tentu akan membutuhkan setidaknya 60 sampai 70 persen konten local seperti pasir, tanah, batu bata, Semen dan lain sebagainya. Sebuah simbiosis mutualisme akan terjadi dengan sendirinya.


Bagi saya, Pak Mochtar Naim, adalah seorang ilmuan hebat, beliau menjalani kehidupan di banyak negara di belahan dunia ini, kuliah di Jogja, melanjutkan study S2 Montreal Kanada, lalu berpindah ke New York, Singapura, Jepang lama di Makassar, lalu pernah pula ke Inggris, dan Amerika tentu sudah banyak pengalaman. Karena sebagian besar hidup dilalui di luar negeri, banyak ilmu dan pengalaman yang didapatkan. 

Agaknya, perlulah berbagi dengan kami yang muda-muda ini. Berikanlah kearifan.. Apakah sekali ini, sedikit tergelincir dari logika akademik, lalu pincang dan sumbang dalam berpendapat? Semoga itu sebenarnya yang terjadi. Salam hormat! [] 



Wednesday, 29 May 2013

Trik Rahasia Wawancara Kerja (Bag. 3)

Lanjutan dari Trik Rahasia Wawancara Kerja (Bag. 2)

Pertanyaan :

"Apa keunggulan yang Anda miliki?"

Pilihlah jawaban yang paling kuat.

A). Keunggulan saya adalah keahlian mengelola sumber daya manusia. Saya suka bekerja dengan orang banyak dan membantu mereka menyelesaikan persoalan. Pelanggan sangat penting bagi saya, dan saya pun mengatakan hal itu kepada mereka. Saya menerima banyak umpan balik yang positif tentang keahlian saya dari para pelanggan.

B). Keunggulan saya adalah kombinasi antara keahlian teknis dan kemampuan untuk bekerja dengan beragam pelanggan. Saya memandang diri saya sebagai ahli pengumpul data, tetapi apa yang membuat daya saing saya adalah kemampuan untuk bekerja secara langsung dengan para pelanggan dan mencari akar persoalan. Saya mampu mengolah permasalahan-permasalahan yang rumit ke dalam bahasa yang sederhana dan mudah dipahami, sehingga pelanggan dapat memahami apa yang saya katakan. Selama 2 tahun terakhir ini saya telah menerima penghargaan di bidang pelayanan pelanggan.

C). Saya memiliki latar belakang yang kuat dalam pelayanan kepada konsumen. Baik konsumen internal maupun eksternal. Saya dapat membanggakan kemampuan yang saya miliki dalam hal bekerja dengan orang banyak dan menyelesaikan persoalan. Selama 2 tahun terakhir ini saya telah terpilih sebagai tenaga pelayanan pelanggan terbaik setiap kwartal.

EVALUASI JAWABAN

Jawaban Terkuat

B). Ini adalah jawaban yang paling kuat karena ia memberi gambaran luas tentang apa yang Anda bawa untuk posisi tersebut. Bukan hanya yang disyaratkan keahlian teknis—tetapi juga nilai tambah dari kemampuan Anda untuk bekerja secara langsung dengan konsumen. Demikian juga kemampuan yang kuat untuk menyampaikan informasi teknis dalam konteks makna sederhana dalam ketatnya persaingan kerja. Sangatlah perlu bagi Anda untuk memikirkan keunggulan Anda lebih dari sekadar memenuhi kualifikasi. Apa lagi yang dapat Anda tawarkan yang tidak dapat ditawarkan kandidat lain. Semakin banyak keahlian yang Anda masukkan dalam jawaban Anda, semakin banyak informasi yang akan dinilai sang pewawancara baik yang menjadi prasyarat atau di luar itu.

Jawaban Pertengahan

C). Meskipun jawaban ini kuat, namun tidak sekuat jawaban (B). Jawaban ini bagus, karena memberitahukan kepada sang pewawancara bahwa Anda memiliki kemampuan yang kuat untuk bekerja dengan konsumen internal dan eksternal, serta menyelesaikan segala persoalan. Jawaban ini akan lebih kuat jika Anda menggabungkannya dengan beberapa keahlian yang berasal dari pengalaman atau pengetahuan Anda, seperti pengetahuan tentang industri atau produk.

Jawaban Terlemah

A). Ini adalah jawaban yang sangat umum, yang dapat digunakan dalam posisi apa pun. "Saya suka berbagi dengan orang, telah terbiasa membantu orang lain menyelesaikan masalah," juga merupakan konsep yang terlalu umum untuk membuat kesan bagus pada sang pewawancara.

BERILAH PENILAIAN PADA DIRI ANDA

Bila Anda memilih jawaban (B), beri nilai diri Anda 5 poin.

Bila Anda memilih jawaban (C), beri nilai diri Anda 3 poin.

Bila Anda memilih jawaban (A), beri nilai diri Anda 0 poin.



Pertanyaan :

"Apa kelemahan terbesar Anda?"

Pilihlah jawaban yang paling kuat.

A). Kelemahan bukanlah sesuatu yang menjadi pikiran saya. Saya menyadari, saya dapat meningkatkan kesabaran saya pada saat bekerja dengan orang yang tidak memiliki kesamaan langkah dengan saya. Saya suka membantu anggota tim yang punya masalah. Saya justru dapat bergerak maju daripada menjadi seorang yang frustasi dan tidak melakukan apa pun.

B). Saya adalah seseorang yang suka melakukan pekerjaan dengan benar sejak awal. Saya akan menjadi sangat frustrasi ketika pekerjaan orang lain mempengaruhi kemampuan saya untuk melakukan pekerjaan dengan benar. Saya biasanya bekerja dengan mencoba untuk lebih memahami dan menyimpulkan suatu masalah sebelum saya memberikan pendapat atau keputusan.

C). Kelemahan saya adalah bekerja terlalu keras untuk menyelesaikan pekerjaan dengan baik. Karena dengan beban kerja yang ada saya harus bekerja tiap malam dan tiap pekan agar pekerjaan saya selesai tepat waktu. Saya mencoba untuk bekerja secara bijak, cerdas, bukan keras.

EVALUASI JAWABAN

Jawaban Terkuat

A). Di dalam jawaban ini terdapat penjelasan yang amat sungguh-sungguh dan jujur. Saat pemikiran ke masa depan tertuang dalam jawaban ini. Jawaban ini juga menunjukkan keinginan Anda untuk melakukan perbaikan dan tindakan apa yang Anda butuhkan untuk menyelesaikan persoalan dalam pekerjaan.

Jawaban Pertengahan

B). Ini bukanlah suatu jawaban yang buruk. Bagaimanapun, sang pewawancara akan mengira bahwa Anda adalah orang yang mandiri dan sempurna, dan hal itu dapat menyebabkan suatu masalah. Hindari mengeluarkan pernyataan yang bersifat pribadi, yang di kemudian hari dapat menyulitkan diri Anda untuk menuju ke perubahan. Dalam menjawab pertanyaan, hal terbaik adalah menunjukkan sesuatu yang dapat memperbaiki kelemahan Anda dalam bekerja: "Saya dapat melakukannya."

Jawaban Terlemah

C). Ini adalah sebuah jawaban yang sangat kuno dan sepantasnya dihindari "bekerja terlalu keras". Ini adalah sebuah pemikiran yang kedengarannya lucu. Sang pewawancara mungkin akan peduli tentang bagaimana Anda bekerja keras, apakah karena beban kerja yang terlalu berat atau karena kebiasaan malas bekerja Anda.

BERILAH PENILAIAN PADA DIRI ANDA

Bila Anda memilih jawaban (A), beri nilai diri Anda 5 poin.

Bila Anda memilih jawaban (B), beri nilai diri Anda 3 poin.

Bila Anda memilih jawaban (C), beri nilai diri Anda 0 poin.

SUMBER

Trik Rahasia Wawancara Kerja (Bag. 2)

Lanjutan dari Trik Rahasia Wawancara Kerja (Bag. 1)...

Pertanyaan :

"Mengapa Anda ingin bekerja di sini?"

Pilihlah jawaban yang paling kuat.

(A) Saya melakukan riset dan memilih perusahaan-perusahaan yang paling membuat saya tertarik, dan perusahaan Anda berada di puncak daftar saya. Saya melakukan riset itu berdasarkan reputasi perusahaan, tingkat kehandalan produknya, dan stabilitas industri. Demikian juga bagaimana karyawan-karyawannya memandang pekerjaan di perusahaan itu. Saya melakukan pekerjaan yang terbaik ketika tujuan dan nilai-nilai saya selaras dengan tujuan dan nilai-nilai perusahaan. Saya tahu bahwa saya dapat menyesuaikan diri dengan kultur perusahaan dan memiliki banyak kontribusi.

(B) Saya melihat lowongan kerja itu di internet. Pekerjaan ini sangat tepat untuk keahlian dan kemampuan saya. Saya melihat ini sebagai kesempatan nyata untuk menemukan tantangan. Saya ingin bekerja untuk perusahaan di mana saya dapat tumbuh, berkembang, dan tertantang. Saya mencari perusahaan dengan catatan finansial yang solid dan prestasi industri—seperti perusahaan Anda. Saya tahu saya akan cocok di sini dan mampu "menyatu sampai ke dasar."

(C) Ketika saya melihat lowongan itu di koran, saya sadar itulah pekerjaan yang tepat untuk saya. Saya adalah penggemar produk kain Anda dan selalu membelinya di toko. Saya akan senang sekali dapat bekerja di sini. Sangat penting bagi saya bahwa perusahaan tempat saya bekerja mempunyai reputasi dan produk yang bagus. Saya melihat ini sebagai kesempatan besar bagi saya untuk bekerja di perusahaan besar yang benar-benar saya kagumi.

EVALUASI JAWABAN

Jawaban Terkuat

(A) Inilah jawaban paling kuat, karena menggambarkan perencanaan dan kontrol di pihak Anda. Bukan sekadar sikap "ada lowongan dan saya akan melamar." Anda menunjukkan bahwa Anda mengetahui apa yang Anda inginkan dan bagaimana Anda mendapatkannya. Anda memilih perusahaan ini dengan melakukan riset dan mengecek bagaimana karyawan menilai perusahaan itu. Jawaban ini menunjukkan keyakinan pada keahlian dan kemampuan Anda untuk menyesuaikan diri dengan kultur perusahaan tersebut. Namun harus diperhatikan, terlalu percaya diri (over confidence) bisa menimbulkan masalah besar sebagaimana kekurangan kepercayaan diri.

Jawaban Pertengahan

(C) Inilah jawaban yang sangat umum. Jawaban ini memberi tekanan pada "Anda" dan apa yang bisa Anda dapatkan dari peluang itu. Meskipun menjadi pengagum atau pelanggan sebuah perusahaan adalah bagus dari kacamata konsumen, namun akan lebih kuat jika Anda menambahkan hal-hal spesifik yang Anda kagumi, misalnya favorit yang mereka buat atau cara mereka mengalahkan kompetitor—sesuatu yang mengindikasikan bagaimana peran Anda sebagai konsumen memiliki kaitan dengan pekerjaan yang Anda cari. Menjadi pengagum atau pelanggan tidak memberi nilai tambah dari kacamata pewawancara. Sedikit merayu tidak apalah, namun ingat Anda sedang melihat sisi bisnis itu bukan dari sisi konsumen.

Jawaban Terlemah

(B) Inilah terlemah. Penekanan ada pada "Apa tujuan Anda—mencari tantangan, tumbuh, dan berkembang." Dasar dari proses wawancara adalah "Apa yang dapat Anda lakukan terhadap perusahaan?" bukan "Apa yang dapat dilakukan perusahaan untuk Anda?"

BERILAH PENILAIAN PADA DIRI ANDA

Bila Anda memilih jawaban (A), beri nilai diri Anda 5 poin.

Bila Anda memilih jawaban (C), beri nilai diri Anda 3 poin.

Bila Anda memilih jawaban (B), beri nilai diri Anda 0 poin.


Pertanyaan :

"Apa tujuan yang hendak Anda capai?"

Pilihlah jawaban yang paling kuat.

A). Tujuan saya adalah bekerja untuk perusahaan di mana saya dapat tumbuh dan akhirnya menjadi seorang manajer marketing. Saya ingin memimpin sebuah tim yang terdiri dari orang-orang terampil dan memiliki pengaruh besar terhadap perusahaan. Saya tertarik pada perusahaan yang berpikiran ke depan dan berorientasi pada pertumbuhan.

B). Saya ingin bekerja di sebuah departemen yang mempercayai pelatihan lintas fungsi. Saya beranggapan bahwa itulah cara terbaik untuk belajar dan melihat gambaran yang lebih besar dalam sebuah perusahaan. Pada akhirnya, saya berharap kembali ke sekolah untuk mendapatkan gelar MBA. Saya pikir itu akan memperluas ilmu saya, sehingga suatu hari saya dapat memiliki perusahaan konsultan sendiri, yang bekerja secara nasional maupun internasional.

C). Saya membagi tujuan ke dalam tujuan-tujuan jangka pendek dengan tujuan jangka panjang di kepala. Saat ini saya mencari sebuah posisi dalam sebuah perusahaan dengan catatan prestasi yang solid. Saya ingin memberikan kontribusi pengalaman-pengalaman saya di bidang ini. Tujuan jangka panjang akan bergantung pada perjalanan karir yang ada di perusahaan ini. Idealnya, saya ingin berkembang secara progresif dalam sebuah perusahaan.

EVALUASI JAWABAN

Jawaban Terkuat

C). Inilah jawaban terkuat di antara tiga pilihan. Karena ini adalah pertanyaan terbuka, tidak ada jawaban benar atau salah. Jawaban ini adalah yang terbaik karena sifatnya yang terbuka atas peluang pertumbuhan, namun tidak membuat tujuan Anda tampak tidak realistis, kaki atau spesifik.

Jawaban Pertengahan

A). Masalah yang berkaitan dengan jawaban ini adalah terlalu spesifik dan dapat menjadi faktor yang tidak menguntungkan jika perusahaan tidak memiliki jenjang karir yang memungkinkan seorang karyawan mencapai tujuan ini. Lebih baik Anda menghindari jawaban-jawaban yang sempit atau tidak fleksibel.

Jawaban Terlemah

B). Jawaban ini awalnya bagus, namun kemudian agak senonoh. Meski jujur, jawaban ini akan mengecewakan sang pewawancara. Pihak perusahaan sedang mencari seseorang yang bersedia bertahan dan memberikan kontribusi pada perusahaan. Bukanlah tujuan perusahaan itu untuk menyewa seseorang dan melatihnya untuk menjadi pesaing di kemudian hari.

BERILAH PENILAIAN PADA DIRI ANDA

Bila Anda memilih jawaban (C), beri nilai diri Anda 5 poin.

Bila Anda memilih jawaban (A), beri nilai diri Anda 3 poin.

Bila Anda memilih jawaban (B), beri nilai diri Anda 0 poin.

SUMBER

Saturday, 11 May 2013

From Bass, Marketing And Breakthrough It

Salam Weekend All :)

Lama sekali saya belum memposting artikel yang mendobrak pola pikir ala street marketer seperti yang saya alami sekarang.

Saya mulai dengan sebuah pertanyaan, apa yang Anda ketahui tentang pemasaran?

Apakah bagian dari nyawanya bisnis ?
Apakah bagian dari teori-teori yang menurut saya muluk-muluk -dan sering menggunakan bahasa yang terlalu sulit dimengerti oleh semua jenis kalangan awam-seperti yang pernah diajari oleh disekolahan ataupun dari buku-buku pemasaran dengan berbagai pola pikir matematis nya tersendiri oleh penulisnya ?

Berbagai video, ebook, literatur yang membahas pemasaran baik secara offline maupun online, pemasaran hanyalah bagian dari pola tersendiri oleh sang kreator teori. Berbagai kasus pemasaran, hanyalah Anda dan tim Anda yang memiliki peran penting disana sebagai problem solver.

Saya tidak bilang bahwa berbagai komparasi teori oleh para pakar pemasaran tidak penting, ataupun jasa konsultan pemasaran menjadi di anak tirikan. Bukan itu maksud saya.

Bisnis adalah bagian dari diri Anda sendiri. Anda yang jauh lebih mengerti tentang bisnis Anda, perilaku konsumen Anda, kapan dan bagaimana strategi pemasaran Anda berjalan.

Apakah pemasaran bisnis Anda sudah mengedepankan nilai-nilai cinta yang tak mampu dikalkulasikan ?

Pemasaran adalah seni, makanya saya selalu menggandeng nilai seni puisi, prosa dan kalimat-kalimat sastra sehingga ruhnya pemasaran hingga mencapai level Anda tidak mengharapkan apa-apa dari bisnis Anda. Seperti Anda mencintai seseorang tanpa perlu pengorbanan, tapi Anda tulus/ kudus mencintainya. Atau seperti ayam jantan yang tidak mempunyai alasan untuk menyukai pasangan betina, tapi begitu jadi maka jadilah harapan ada kehidupan baru dari telur-telur yang dibuahi oleh sang penjantan. Sederhana, tanpa alasan untuk mencintai.

Video berikut memberikan gambaran seorang pemain bass Barry Likumahuwa yang begitu mencintai profesinya, sedikit frontal dengan kebiasaan, namun berefek luar biasa dikehidupannya sekarang :




"Marketing is about passion. Leading by God for all of it ."
Salam

Ngobrol dengan saya di Twitter yuk ! :)




Tuesday, 2 April 2013

Belajar Bisnis Tukang Pangkas Dari Seorang Satpam

Gaji masih terasa tidak cukup untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari ?...Mmmm...kebanyakan orang akan memberikan jawaban "Tidak Cukup" ...maklumlah, manusia memang adalah makhluk yang tidak pernah mencapai level cukup/ puas.

Kebetulan setiap 3 bulan sekali, saya memangkas rambut saya yang acak-acakan nan dekil ke tukang pangkas yang harganya pas dikantong agar penampilan saya kembali necis. Saya lebih memilih brand pangkas merakyat alias tukang pangkas yang membuka lapaknya di pinggir jalan ketimbang memangkas rambut di pusat perbelanjaan modern. Saya pikir hasil pangkasnya tetap sama rapinya, sesuai dengan maunya konsumen, higienis (pisau cukur & handuk sekali pakai), dan tentunya menggunakan Nature Air Conditioner alias kipas angin.


Cerita punya cerita, si tukang pangkas atau biasa dipanggil bang Riki, sudah mengasah kemampuan pangkasnya sejak masa SMA. Belajar secara otodidak, dimarah-marahi pelanggan karena tak sesuai model pangkas seperti yang diminta pelanggan sudah menjadi asam garam dunia perpangkasan bang Riki. Pengalaman 20 tahun lebih bergelut di bisnis pangkas ternyata dapat menghidupi 5 orang anak yang masih SD beserta seorang istri. Wow....

Walaupun minatnya di bisnis pangkas, bekerja sebagai satpam di sebuah perusahaan besar juga digelutinya sebagai tambahan nafkah tetapnya. Belum lagi nyambi sebagai pemain organ untuk orkes dikala ada acara pesta penikahan dan mengayam rotan untuk dijadikan kursi & meja. Lumayan...

Kira-kira selama sebulan, bisa juga mengorek pendapatan hingga 3 juta rupiah dalam sebulan. Kalau lagi banyak pelanggan pangkas, bisa lebih dari 3 juta. Fantastik!

Saya jadi tertarik untuk mencari tahu usaha pangkas dengan bang Riki. Setelah pulang dari kerja sebagai satpam, maka disitulah baru membuka lapak pangkasnya. Tergantung dari jadwal shift kerja. Apalagi pas hari minggu, maka pelangganpun membludak.

Nah, diwaktu senggang saat menunggu pelanggan pangkas, beliau sambilan mengayam rotan untuk dipajang didepan rumahnya untuk dijual ke konsumen. Margin untungnya bisa 2 kali lipatnya. Sedangkan modal produksi pangkas perorang setelah dihitung matematis sekitar Rp 5000 (modal pisau silet sekali pakai, air, listrik, sabun cukur, menthol pijat, dll) dengan harga jual Rp 12000. Itu belum termasuk pendapatan tambahan dari jualan rokok maupun tips jika pelanggan puas dengan pelayanan beliau. Beliau mensyukurinya lho :)

Melihat gigihnya menafkahi keluarganya dari bisnis pangkas dan kerja sebagai satpam, ternyata anaknya lah yang menyemangati kegigihannya. Dari situlah terispirasi untuk membuat suatu sistem turun temurun untuk membangun bisnis pangkas mulai dari yang terkecil/ modal minim.Sejak dini pula beliau mengajarkan anak-anaknya cara pangkas mulai dari model yang sederhana alias pangkas rambut menjadi pendek. Si abang memangkas si adik, secara bergiliran si adik juga kebagian jatah untuk memangkas si abang. Mmm...bagus juga didikan si ayah satu ini :) 

Walau didampingi oleh istri yang fokus untuk mengurus anak dan keluarga ini masih numpang di rumah mertua indah, tidak ada keraguan dengan bisnis pangkasnya. Cemoohan sudah kenyang dimakan, tapi si ayah satu ini tetep kekeuh dengan keahlian pangkasnya dan rencana kedepannya untuk membuka cabang-cabang pangkasnya. Kelak anaknya bisa lebih maju daripada ayahnya dan mandiri secara finansial. 

Selamat membangun Riki's Barber Legacy ya pak :) Bisnis ini selalu dirindu lho pak :)

Catatan kaki : Dibalik bisnis kecil justru ada hikmah. Kegigihan karena ada tanggungan keluarga yang dinafkahi adalah motor penggerak yang  dahsyat. Satu kalimat akhir dari saya terhadap bisnis pangkas rambut pinggiran ....Never underestimate small business !!!









Wednesday, 6 March 2013

Pilkada Gubernur Sumatera Utara Komposisi Utama Gincu Branding

Pagi buta di waktu sekarang ini adalah waktu yang tepat bagi blogger untuk menuangkan ekspresi tulisannya. Alasannya karena bangun tidur lho, jadi pikiran masih fresh from kulkas, hehehehehehe...becanda kok :)

Di waktu bersamaan juga, hari ini Medan memilih siapa yang akan menjadi orang nomor 1 dan 2 di tanah pluralis Batak, Karo, Nias, Melayu dan lain-lain dalam heterogenitas masyarakatnya. Siapa yang akan memimpin SUMUT 1 dan 2 ? Hanya waktu lah yang menjawab. 


Nah, dengan 5 pasangan yang maju pada pilkada SUMUT, tentu membawa janji-janji politis yang bakalan nanti saya -kita- pasti tagih.

Pantaskah sebenarnya mereka ber-5 maju sebagai pemimpin SUMUT ? Secara urusan administrasi untuk maju sebagai calon pemimpin SUMUT, tentu sudah memenuhi syarat. Tapi tunggu dulu, apakah secara elektabilitas politik, genuine & authentic branding yang tak basa basi (tidak dibuat-buat) mereka semua mumpuni ? Ups, tunggu dulu. Biarkan pemerhati  branding yang berbicara ya :)

Medan sekarang lebih mendominasi kalangan kelas menengah dengan karakteristik rakus akan globalisasi, daya beli tinggi, berpengetahuan luas, dan berwawasan global. Mereka bersekolah tinggi. Mereka pengkonsumsi apps yang passionate (maklumlah, sekarang eranya digitalisasi). Nah, mampukah Medan sedikit tertiru pilkada DKI 1 yang mayoritas pemilihnya justru kelas menengah ini ? Yup, sepertinya masyarakat kelas menengahlah yang menentukan nasib SUMUT 1. Masyarakat ini tak bisa dibohongi dengan kebohongan janji politik atau biasa disebut oleh mas Yuswohady sebagai Gincu Branding (menor, norak, palsu)

Gincu

Untuk menjelaskannya saya ingin mengambil contoh gaya personal branding para politisi yang hampir setiap malam disaksikan iklannya di TV. Gaya dari iklan-iklan itu umumnya setali tiga uang: si tokoh menggunakan atribut-atribut partai dan atribut merah putih, menyuarakan nasionalisme, membela keadilan, perhatian kepada rakyat kecil, anti korupsi. Selalu saja tak ketinggalan, si tokoh mengedepankan prestasi-prestasi hebat yang telah dicapainya selama ini.

Dalam iklan itu si tokoh umumnya dipersonifikasikan sebagai sosok yang arif-bijaksana, pemurah, taat beragama, peduli pada kaum papa. Dalam adegan-adegan iklan biasanya digambarkan si tokoh merangkul pedagang pasar, memberikan sumbangan bencana alam, atau bersalaman dengan masyarakat tertinggal di pedalaman. Agar dramatis dan mengena hati pemirsa, seringkali gambar direkayasa dengan memberikan efek slow motion.

Untuk memperkuatnya, biasanya iklan dilengkapi dengan celoteh para selebriti yang berperan sebagai endorser (sebut saja mereka “cheerleader”) ngomong yang baik-baik mengenai si tokoh. Namanya saja iklan, tentu saja kurap, kudis, dan panu si tokoh disembunyikan rapat-rapat. Di layar TV pokoknya yang muncul serba kinclong. Tak tahu kenapa, setiap kali habis nonton iklan-iklan semacam ini mendadak saya matikan saja siaran TV nya dan kembali ke aktivitas blogging, hehehehehehhehe...

Tak cuma iklan TV, biasanya sosok si tokoh juga ditampilkan dalam billboard-billboard raksasa di jalan-jalan protokol dan strategis. Di situ terpampang para gubernur lengkap dengan seragam putih dan topi kebesarannya numpang nampang iklan promosi kampanye wisata daerah. Saya bingung tujuh keliling, kenapa juga foto si gubernur yang justru segedhe gadjah, sementara foto potensi wisatanya sendiri nyemplik kecil, kalah bersaing dengan foto mentereng sang gubernur. “Nabung elektabilitas” kali ya, untuk Pilkada mendatang, hehehe. (lagi-lagi saya ketawa :D )

Tidak seperti Jokowi yang ikhlas menggelar pelantikan walikota, iklan-iklan dan billboard-billboard itu umumnya digelar dengan tujuan strategis yang jelas, yaitu: menaikkan elektabilitas, menaikkan awareness, atau membangun citra mulia si tokoh. Tujuan akhirnya lebih jelas lagi, yaitu terpilih menjadi bupati, menjadi gubernur, atau menjadi presiden. Pasang iklan tiap malam di TV tentu saja membutuhkan investasi miliaran rupiah, dan setiap investasi harusnya menghasilkan ROI (return of investment) yang setimpal. Di sinilah keikhlasan dan ketulusan itu sulit kita temukan.

Iklan adalah media promosi yang diperoleh karena kita membayar (paid media). Karena membayar maka kita bisa merekayasa, memoles, memplintir, agar sampai maksud dan tujuan yang kita inginkan. Itu sebabnya iklan-iklan itu tidak bisa otentik, tidak bisa polos, tidak bisa apa adanya. Citra yang dibangun iklan tersebut penuh dengan rekayasa, intrik, dan kemunafikan. Itulan yang saya sebut gincu branding. Sebuah strategi branding yang “roh”-nya adalah udang di balik bakwan.

Untuk menjalankan authentic branding dibutuhkan tokoh pemimpin yang berkarakter. Saya hanya berdoa semoga SUMUT dipimpin oleh authentic character, karakter yang tanpa basa basi.  Karena dengan begitu setiap polah tingkahnya akan menjadi inspirasi bagi kita semua, terutama para politisi yang berambisi menjadi bupati, gubernur, atau presiden.

Marketing Al Amin

Marketing adalah al amin alias trusted dan dapat dipercaya. Kalau produknya jelek harus berani dibilang jelek. Begitupun kalau produknya bagus dibilang bagus dilandasi kejujuran dan bukti-bukti yang dapat dipercaya. Marketing juga adalah kesesuaian antara janji dengan bukti. Ketika selama kampanye seorang calon pemimpin berjanji kepada masyarakat pemilihnya, maka ketika terpilih ia harus bisa mewujudkan janji tersebut menjadi kenyataan.

Marketing itu tidak ada yang instan. Ya, karena produk yang betul-betul bagus adalah hasil perasan keringat, buah dari kerja keras bertahun-tahun, tak ada yang semalam jadi. Membuat produk jelek menjadi bagus melalui pemolesan/pembedakan/penggincuan di mata publik itu baru instan. Marketing pencitraan memang bisa dibuat instan, tapi marketing al amin butuh kerja keras bertahun-tahun disertai kejujuran dan kearifan.

Oleh karena itu saya memaknai marketing dalam konteks pemilihan capres/caleg/cagub-bup sebagai proses menciptakan capaian (achievement) dan membangun karakter (character-building) dari si calon. Memarketingkan capres atau cagub bukanlah memasang baleho foto si calon di seantero negeri atau menayangkan spot iklan TV si calon 60 kali setiap hari menjelang hari pencoblosan.

Character Matters!

Aktivitas fundamental memarketingkan capres atau cagub adalah bagaimana si calon menciptakan legacy demi legacy prestasinya melalui kerja nyata dan bagaimana melalui perilaku sehari-hari sebagai pemimpin ia membentuk karakternya yang otentik (authentic character). Itu semua dibangunnya jauh sebelum si capres atau cagub menyongsong pencoblosan. Dari track record si calon tesebut terbentuklah ekuitas merek (brand equity) si calon yang baik di mata stakeholders-nya. Ekuitas merek kokoh inilah yang secara genuine akan mengantarkan si calon memenangkan pemilihan.

Kemenangan Jokowi-Ahok merupakan kasus menarik karena kemenangan tersebut merupakan cermin keunggulan “marketing al amin” atas “marketing pencitraan”. Proses kemenangan Jokowi tidak diperoleh secara instan beberapa minggu menjelang pencoblosan, tapi sudah dibangun bertahun-tahun sebelumnya melalui capaian-capaian luar biasa selama menjadi walikota Solo. Kemenangan Jokowi juga bukan semata hasil dari aksi merakyat yang dilakukannya selama kampanye, tapi dari karakter kepemimpinan yang ia praktekkan selama menjadi walikota Solo, terlepas dari selentingan : ..."menghadapi mamak banteng aja, Jokowi jadi keder...." #peaceman ^^v

Namanya saja karakter, tak mungkin bisa diubah dalam kurun waktu 3 bulan, 6 bulan, atau setahun menjelang pencoblosan. Mana bisa secepat bus Medan-Brastagi tiba-tiba menjadi pemurah. Mana bisa seumur-umur tak pernah turun ke masyarakat tiba-tiba menjadi sosok merakyat. Mana bisa seumur-umur menyunat uang rakyat tiba-tiba menjadi malaikat.

Pelajaran Berharga

Kasus kemenangan Jokowi-Ahok mengandung pelajaran berharga bagi para capres/caleg/cagub-bup yang akan maju untuk dipilih rakyat. Bagi mereka pelajarannya jelas bahwa memarketingkan diri (marketing yourself) si calon bukanlah ditempuh melalui proses pencitraan apalagi politik uang, tapi melalui proses character building yang dipraktekkannya jauh sebelum hari pencoblosan. Berkaitan dengan hal ini, marketing capres/caleg/cagub-bup menjadi tiga tingkatan.

Tingkatan pertama adalah yang paling hina yaitu dengan cara menyogok pemilih. Lebih hina lagi jika uang yang digunakan untuk menyogok itu adalah uang hasil korupsi. Tingkatan kedua adalah dengan cara melakukan pencitraan dimana muka bopeng-bopeng ditutup rapat dengan bedak dan lipstik. Dan tingkatan ketiga adalah yang paling al amin yaitu si calon mempersiapkan diri dengan membangun prestasi dan mengatur sikap dan perilakunya sehingga memiliki karakter arif-bijaksana.

Bagi tim sukses dan konsultan si calon pelajarannya pun jelas, bahwa marketing capres/caleg/cagub-bup bukanlan sesederhana memasang poster/baleho, menayangkan iklan TV si calon, atau melakukan serangan fajar menjelang hari pencoblosan. Upaya memenangkan seorang calon pemimpin adalah sebuah proses etis untuk menemukan sosok yang memiliki kompetensi teruji dan karakter yang agung.

Seperti terlihat pada proses kemenangan Jokowi-Ahok, ketika kompetensi teruji dan karakter agung itu sudah terpenuhi, sesungguhnya marketing cagub itu nggak  neko-neko. Nggak perlu teknik marketing yang canggih. Cukup mengkomunikasikan track record dan karakter yang sudah melekat pada si calon pemimpin secara authentic dan genuine, tanpa ditambah-tambah atau dikurang-kurangi. Bahkan mungkin tak perlu baleho besar-besar atau iklan TV yang menggemparkan.

Word of Mouth

Karisma pemimpin yang memiliki track record baik dan karakter agung secara natural akan memancar ke segala penjuru dan memicu promosi dari mulut ke mulut (word of mouth) dari para pemilihnya. Masyarakat pemilih menjadi ambasador si calon pemimpin yang secara sukarela menyebarkan pesan-pesan positif kepada pemilih lain. Harap diketahui, dalam konsep marketing, promosi dari mulut ke mulut ini adalah bentuk promosi yang paling murah tapi memiliki dampak luar biasa (low budget high impact).

Karena itu, kalau seluruh calon pemimpin cerdas menggunakan pendekatan marketing al amin untuk menghasilkan promosi dari mulut ke mulut yang begitu powerful ini, wow alangkah indahnya negeri ini. Ya, karena dengan begitu tak akan ada lagi capres atau cagub yang repot-repot melakukan korupsi untuk mendanai kampanyenya.

Salam Tong F*ng Medan ku 1

Disadur dari Political Marketing Yuswohady