Thursday, 16 September 2010

Pendekatan Makrifat ala Busyro Muqoddas




Salah satu materi yang disusun oleh panitia LK II beberapa hari yang lalu berjudul Hukum dan Keadilan. Pemateri adalah salah seorang calon ketua KPK, DR.Busyro Muqoddas SH, M.Hum. Bukan karena siapa yang berbicara ataupun judul materi yang beliau sampaikan akan tetapi, kualitas yang beliau ucapkan sungguh berkesan. Mungkin menurut sebagian orang biasa saja tetapi menurut saya hal tersebut luar biasa karena substansi ucapan beliau mengandung makna yang cukup dalam.

Beliau maju menjadi calon ketua KPK pun setelah melalui tahapan-tahapan, pertama beliau memang banyak diusulkan oleh rekan-rekan kemudian beliau konsultasikan dengan rekan-rekan di kampus setelah itu beliau istikharah cukup lama sehingga pada detik-detik akhir penutupan seleksi beliau mendaftarkan diri. Setelah beliau melalui istikharah tersebut pada akhirnya diberi kemantapan hati bahwa ini adalah tugas negara yang harus diemban. beliau berkata bahwa semua ini didasarkan pada niat. Beliau juga memberi nasehat pada kami peserta LK bahwa komunitas yang lingkungannya baik itu perlu untuk selalu mengingatkan kita.

Kebetulan materi yang beliau sampaikan tentang Hukum dan Keadilan, beliau berkata bahwa Keadilan memerlukan akhlakul karimah yang bersumber pada Al Quran dan As Sunnah. Memang susah untuk memberantas korupsi di Indonesia karena pengaruhnya sistemik sehingga harus di babat seluruhnya. Sehingga memang sulit perlu waktu dan proses yang cukup lama.

Di akhir pertemuan beliau berpesan bahwa jika kalian masuk ke dalam sistem awali semuanya dengan niat yang baik dan baca doa "Robbi Ad Khilni Mud Khola Shidqin, Wa akhrijni mukhroja shidqin" yang artinya kira-kira begini, Ya Allah masukkanlah aku dalam keadaan baik dan keluarkan aku dalam keadaan baik..

Dari paparan beliau yang lebih mendekatkan diri pada penekatan makrifat membuat kita coba untuk mengintrospeksi diri bahwa ternyata ke depan diperlukan pemimpin yang amanah dan istiqomah dengan pendekatan makrifat seperti yang beliau ajarkan kepada kami. Semoga amanah ya pak..!!

Sunday, 5 September 2010

LK II ke-II-ku : lahirnya Laskar Baiturrahman


Alhamdulillah setelah dua kali berjuang agar lolos LK II akhirnya kemarin tgl 1 September dini hari sudah menyelesaikan LK II ke-II-ku, tahun lalu sempat ikut LK II yang diadakan FE UII tapi karena sering pulang ga jelas (cz tabrakan sm waktu koass) dan ketika penutupan ga hadir jadinya ga lulus. Tahun ini ikut lagi dan akhirnya lulus, Alhamdulillah..

Awalnya agak canggung karena merasa angkatan tua. Apalagi harus berhadapan sama angkatan-angakatan muda tahun 2008 dan 2009 tapi akhirnya bisa juga menyesuaikan diri dan mudah beradaptasi sehingga bisa menyatu dengan teman-teman. Ternyata, setelah selidik demi selidik ketemu juga angkatan yang sama namun beda kampus, panggil saja dia E, si E ternyata juga angkatan tua hanya saja masuk UTY tahun 2007. Ga jadi paling tua di LK, hohoho…

Awalnya sudah pasti ngebosenin, apalagi ada beberapa agenda kultum traweh yang harusnya ku isi terpaksa aku cancel, belum lagi agenda buber sama teman-teman komi FK juga di cancel. Hari pertama dilalui dengan sukses walaupun bada buka puasa di dera cephalgia akut (Nyeri kepala.red) biking a konsep waktu materi malam, rasanya kepala benar-benar mau pecah.. nyeri kepala khas sekali berdenyut. Sampai akhirnya ku cari obat sebelum tidur minta sama teman anak FH, Rio.. Nah ini dia anak paling bermuka mesum hehe.. Paracetamol 500 mg cukup untuk keesokan paginya lebih fresh saat sahur.
Hari-haru selanjutnya dilalui dengan ringan karena sangat cepat sekali beradaptasi. Materi LK II secara kuantitas dan kualitas hebat, gimana ga hebat lha wong yang ngisi sekelas Pak Busyro Muqoddas, Idham Samawi, Prof. Jawawhir dan sebagainya. Satu yang ku suka dari LK II ini kebersamaannya terasa sekali mulai dari makan aja udah diatur pake metode JT, khidmad. Campur aduk aja tuch tangan anak-anak, ada yang habis ngorek-ngorek upil, garuk garuk, sambil baca komik.. macem-macem aja.. Ada satu kesan yang cukup menarik ketika LK berlangsung.. Waktu panitia menyiapkan menu berbuka puasa seperti biasa masing-masing sudah menunggu didepan pintu waktu itu menunya gorengan, resoles dan es teh. Begitu menu ditaruh di tikar setiap anakn sudah bergerombol memutari tampan dan mengambil jatah satu snack, es the di tangan kiri dan resoles ditangan kanan sudah siap menerjang padahal waktu buka masih 10 menit lagi.. eit..eit..eit… Si Bima waktu dikerjain sama anak-anak dengan ucapan “udah buka, udah buka” udah aja tuch resoles ditangan kanan masuk mulut sampai habis separonya.. dan ternyata Cuma dikerjain, belum buka hahahahaha… Bima sambil mulutnya mencucu belum menelan resoles bilang ga batal lhoo… kan belum ditelan (tapi udah habis separo dan udah masuk mulut bimaa… hehehe)

Ada-ada saja teman-teman LK II-ku, ada yang dijodoh-jodohin macem-macem pula, si A dengan si B, pak lurah dengan bu lurah, huff… sampai ada yang cinlok sama akhwat dr Kudus.. Ups.. keceplosan hahaha..
Sampai pada malam terakhir, akhirnya malam pengumuman semuanya dinyatakan lulus sehingga lahirlah Laskar Baiturrahman yang diambil dari nama mesjid tempat kita melakukan LK..

Wednesday, 25 August 2010

Surat untuk Gadis Kecilku

Ra, Allah tidak pernah tidur nak, Ia selalu terbangun, tidak pernah mengantuk seperti kita, Ia selalu melihat, memperhatikan dan mendengar apa yang kita lakukan, dan kita katakan. Bahkan Allah mendengar doa doa dalam hati kita sayangku.

Doamu Nak, agar kita bisa berlebaran, menikmati Idul Fitri bersama adalah doa paling indah yang pernah aku dengar meski berantara sinyal kemajuan zaman. Gadis kecilku yang cantik, Insya Allah kita akan berlebaran nak, ke Masjid, berfoto bersama, main ke rumah nenek, aki, dan tentu saja kita akan berlarian di jalan menuju sawah yang biasa kita jadikan lokasi pemotretan. Ha a, anak kecil sepertimu pastilah bahagia sekali. Namun lebaran bukan baju baru sayang, bukan kue kue enak atau kemewahan, dan bukan pula pesta pora seolah lepas dari penjara waktu 30 hari.

Lebaran adalah doa doa kepada Yang Maha Kuasa agar kita diberi kembali kesematan untuk bertemu dengan Ramadhan tahun depan dan tahun berikutnya. Sayangku, ingin rasanya mengendongmu saat ini, mendengar ceritamu tentang ikan, kucing dan apa saja yang ingin kau ceritakan. Ingin juga rasanya menikmati gaya centilmu di depan kameraku dan tertawa lepas ketika melihat hal yang kau anggap lucu. Duniamu memang indah Nak. O ya, maafkan aku, aku pernah berkata pada bundamu, agar kau tidak menjadi besar dan bertambah umur, seusia sekarang saja, karena belum puasa rasanya melihatmu dengan gaya seperti ini. Tapi itu hanya bercanda gadis kecil, dan Tuhanpun pasti tertawa mendengarnya.

Ra, kamu masih ingat Nak ?, saat memberikan uang kepada kakek tua di depan Jam Gadang itu, atau saat keningmu berkerut melihat anak sebayamu digendong ibunya yang menadahkan tangan saat kita berhenti di lampu merah. Mereka juga bagian dari kita sayang cantik...Jadi berlebaranlah dengan sederhana seperti Muhammad SAW ajarkan kepada Fatimah Azzahra.

Sabtu ini Insya Allah kita akan bertemu lagi, berdoalah semua akan berjalan baik, kita akan main bersama, bersepeda, berfoto, melihat ikan di kolam, dan ritual lain yang biasa kita lakukan saat bersama. Anakku, jangan nakal, jangan bandel karena anak nakal dan bandel tidak masuk SORGA.

Okeh...
Peluk cium untukmu gadis kecil..
Love u...
Kenapa...?

Sayang, hari hariku menjadi asing sekarang. tak ada lagi cerita tentang cinta, airmata, rindu dan kehidupan. yang terjadi adalah istirahat yang dipaksakan. kenapa kita harus dipisahkan, dan kenapa kita harus menerima takdir ini, dan kenapa kita kenapa dipertemukan, kenapa? kenapa? kenapa?...
Sayangku, Izinkan aku Menulis

Izinkan aku menuliskan kisah ini, sebuah kisah yang pernah terjadi antara kita, sebuah kisah sedih yang memang seharusnya kita alami dan begitu juga harus kita akhiri. Kalimat pertama, izinkan aku meminta maaf padamu, padanya dan pada mereka. Untuk semua yang terjadi, telah terjadi dan mungkin akan terjadi karena kesalahan ini.

Sayangku, izinkan aku menuliskan kisah ini, hanya kali ini, dan untuk hari ini saja, besok bukan waktu yang tepat, apalagi lusa, atau kemudian hari. Luka begitu lebar untuk kututupi, darahnya begitu deras mengalir yang tak sanggup ku hentikan. Kita tentu tidak mau mati sia sia bukan.

Hanya sebuah kisah pendek, tidak panjang dan tidak akan menghabiskan lembar lembar sejarah hidupmu. Hanya tentang aku, kau dan dia. Kisah kita. Kisah tentang sepi, perih dan juga (mungkin) tawa bahagia. Entahlah...

Demikianlah sayangku, aku tak sanggup lagi menulis, simpan surat ini baik baik, jangan kau beritahu mereka, cukup kita yang tahu. Salam sayang selalu untukmu...


Aku...
Begini Saja
Ini tentang cinta sayangku, Sesuatu yang indah dan takkan mampu kau terjemahkan dengan lidahmu yang hanya biasa biasa saja... Jangan pula kau tanya kenapa aku mencinta, karna makna telah tertera di hati kita tanpa perlu kau minta...
Kau masih saja memaksa, sementara aku telah menuntaskan semua pencarian jejak aksara untuk merangkai kata yang pantas, sudahlah...
Begini saja, seperti kataku, pejamkan matamu, sebut namaku sesaat, kau pasti akan temukan jawabannya tanpa perlu memaksa lelaki ini...cinta bukan untuk diterjemahkan sayang manisku, cinta untuk kita rasa,dan miliki utuh selamanya...percayalah, aku untukmu, dan sebaliknya....

Wednesday, 14 July 2010

Kisah Sedih seorang Boby

Punah benar rasanya saya hari ini, lemah seluruh tulang belulang, kenapa tidak, saya dituduh melakukan yang tidak tidak, benar benar sakit hati saya, Iba benar tepatnya. Uang tak ada, kalah pula dalam pilkada kena tuduh pula lagi...Tuhan dan saya sajalah yang tahu apa yang terjadi pada saya.

Belum selesai merenungi nasib, tadi malam, saya bicara kepada istri, berapa uang dalam tabunganya yang tertinggal, ia menjawab hanya cukup untuk membayar tagihan listrik, PDAM, beli air minum galon dan uang lauk pauk sampai akhir bulan. Untuk susu dna bubur anak aman sudah, karena stok masih banyak.

Untunglah saya tidak pengopi dan perokok, saya merokok itupun sekali kali saja, gratis pula. Tuhan baik sekali mempertemukan saya dengan rokok hanya pada waktu waktu ada yang membayarkan rokok menthol saya yang kecil dan menarik itu.

Istri saya, sambil menyetrika baju yang akan saya pakai ke tanah Jawa ini terus bicara, seperti senapan mesin mulutnya itu, tidak henti mengumpat pemerintah yang menaikan tarif listrik, akibatnya ia tidak bisa menyimpan uang lebih banyak karena harga sembako ikut ikutan terbang ke langit, O ya..beberapa waktu lalu, pedagang ayam di kota Padang ini berdemo, ada ada saja tingkah mereka, menolak berjualan ayam, padahal anak saya yang lagi lucu lucu itu sangat suka makan ayam, istri saya juga penggemar sop ceker. Saya sering mencimeehnya karena makan ceker. "Yang dimakan orang sajalah yang kamu makan, itu kata saya sekali kepadanya yang dijawab sambil memicingkan mata menandakan dia tidak setuju sama sekali.

Soal harga Sembako, memang itulah keluhan utama kaum hawa, termasuk istri saya itu. Kalau beras amanlah kita, sawah warisan nenek saya di Pariaman cukup luas untuk memberikan pasokan beras ke rumah, namun kalau minyak goreng, apa mau dikata, kerambil yang tumbuh di sekitar rumah kami di kampung sudah meranggas, hidup malas mati takut pula. Lagipula, istri saya pasti tidak bisa membuat minyak goreng dari kelapa. Saya jamin itu, sepuluh jari di kepala..

Tapi sembako khan bukan hanya beras dan minyak goreng, ada pula jenis lain yang ikut terbang tinggi. Akhirnya pedagang jadi kreatif mereka mengoplos berbagai jenis sembako itu. Haaa...ini yang jadi penyakit, tadi saya baca berita di internet. Ada pedagang cabai yang kreatif mengoplos cabai dagangannya dengan cabai busuk. Sakit hati saya membaca berita itu, takut juga ada, jangan jangan istri saya telah membeli cabai oplosan itu pula dan memakannya dengan lahap. Hallah sudah, kalau itu terjadi, bagaimana dengan anak saya, kalau ibunya sakit gara gara makan cabai oplosan. Pasti sansai jadinya, suami tidak dirumah, badan sakit, anak kecil pula merengek minta di gendong, saya berpikir itu terjadi pada istri saya.

Dalam hati saya berdoa saja, semoga harga harga ini tidak makin terbang tinggi, kasihan istri saya, uang bulanannya pasti tidak cukup untuk membeli lauk pauk, dan kebutuhan rumah tangga lainnya, dan jangan sampai ia terpengaruh berita di TV soal ibu ibu demo gara gara harga sembako naik. Kalau istri saya ikut demo ke DPRD dan Balaikota, pusing sangat saya nanti. Masa saya wartawan meliput istri saya demo ke Balaikota membawa panci dan periuk nasi sambil menggendong anak...Semoga Tuhan menjauhkan istri saya dari TV dan Infotainment dan saya dari fitnah yang tidak bertanggung jawab. Amiin...