Tuesday, 27 August 2013

Mafia Pemasaran - Belajar Dari Ikan Louhan & Anthurium-


Pernah Anda menemukan sepetak tanah yang dulunya hanya dihargai 20.000 Rupiah permeter namun dalam jangka waktu yang relatif singkat bisa menanjak menjadi 750.000 Rupiah permeter ?

Atau pernah kah menemukan kejanggalan harga yang tidak masuk akal misalnya harga Anthurium (yang sebenarnya bagi saya hanya daun penghias doang biasa saja sih ) bisa dihargai hingga mencapai harga yang spektakular hingga ada yang menawar hingga 30 juta Rupiah perpohon ?



Nah, salah satu kompasianer juga pernah mengulasnya pada tanggal 11-11-2011 seperti berikut : "

-. Anda punya kenal pohon Anthurium, Gelombang Cinta (Wave of Love), Jenmanii ?
Atau mungkin pernah memiliki ikan louhan? Ikan louhan adalah jenis ikan siklid dengan bentuk dan warna yang menarik. Kedua komoditas tersebut pernah membuat geger dengan harganya yang luar biasa mahal. Bayangkan saja jenis Anthurium ada yang bisa dihargai ratusan hingga milyaran rupiah. Kemudian untuk ikan louhan juga begitu. Bayangkan, ikan jenis mujair, keduanya jenis siklid, yang satu harganya lima ratus perak yang lain hingga milyaran. Aneh ? Tapi nyata kan ?

Nah, saya mau memberikan ilustrasi sedikit bagaimana seekor ikan atau sebuah pohon bisa berharga tinggi. Namanya ilustrasi, mungkin ada mengkhayalnya, tetapi tetap berdasarkan ’sedikit’ teori, logika dan fakta di lapangan.

Dunia bisnis tidak lepas dari yang namanya modal. Jadi untuk membuat sebuah komoditas menjadi menarik, perlu modal dan strategi bisnis. Untuk bisa menjual sebuah komoditas kita perlu yang namanya pasar. Jika komoditasnya ada tetapi tidak ada pasarnya sama juga bohong. Nggak laku. Begitu pula jika pasarnya ada tapi produknya tidak dikenal. Jadi tahap awal adalah membentuk image sebuah produk lalu kemudian membuat pasarnya. Saya ambil contoh waktu booming ikan Louhan.

Mempelajari Pasar

Ketika itu di Malaysia berhasil mengembang biakkan jenis iklan siklid yang berwarna indah dan berbentuk menarik. Kemudian peluang ini dimanfaatkan oleh pebisnis. Bagaimana caranya menjual ikan ini dengan harga yang mahal dan menguntungkan. Untuk pasar ikan hias komoditas yang paling mahal ditempati oleh Ikan Koi dan Arwana. Kedua ikan ini sudah terkenal dan memiliki pasar sendiri.

Sementara pasaran tertinggi lainnya dipegang oleh ikan langka, semisal Botia. Ikan Botia ini saat itu masih sulit dikembang biakkan. Menurut seorang eksportir ikan di Cibinong, Bogor, mereka masih menangkapnya dari alam. Sekarang jenis ini sudah banyak ditangkar oleh peternak. Berarti pasar iklan Louhan (siklid) masih terbatas dan harganya murah.

Menciptakan Image

Setelah mempelajari pasar, maka harus dibuat pasar sendiri untuk ikan Louhan. Tetapi sebelumnya harus diperkenalkan dahulu produk yang akan dijual. Karena ikan Louhan adalah hasil ternakan dan sangat mudah dikembang biakan, maka perlu strategi sendiri untuk membentuk image.

Pertama kali yang dilakukan adalah dengan menggunakan media massa. Pebisnis, saya menyebut demikian buat investor, akan mengundang media untuk meliput dan memberitakan tentang ikan jenis baru. Media yang saat itu menjadi barometer hobiis adalah majalah Trubus. Dalam setiap edisinya, majalah ini akan memberitakan indahnya ikan louhan. Kemudian pebisnis akan menambahkan bumbu-bumbu lain. Misalnya seorang pakar yang mengatakan bahwa ikan ini membawa keuntungan (hoki), keberkahan, keselamatan, dan lain sebagainya. Jidatnya yang jenong di gambarkan seolah ikan ini mirip dewa tertentu yang membawa kebaikan. Pesan yang ingin disampaikan adalah, “Peliharalah Louhan, ikan jelmaan dewa pembawa kemakmuran, kekayaan, dan kebaikan”.

Membuat Pasar

Strategi untuk membuat pasar, selain memanfaatkan media massa, juga dengan mengadakan pameran dan kontes. Caranya mudah. Ketika ikan Louhan berhasil dikembang biakkan, pebisnis akan membeli dalam jumlah besar. Kemudian membaginya ke beberapa ‘teman’. Membuat komunitas kecil hobiis. Kontes dan pameran dibuat dengan bantuan publikasi media. Di sanalah ‘permainan’ yang sesungguhnya di mulai. Pebisnis sekaligus akan membentuk harga. Caranya dengan membeli ikan dengan harga yang spektakuler. Misalnya, pebisnis memberi saya uang 200 juta dan meminta saya untuk membeli ikan pemenang kontes dengan harga 200 juta. Ketika ini terjadi, media akan membantu mempublikasikan dengan gegap gempita. LUAR BIASA ! IKAN JENIS MUJAIR LAKU 200 JUTA !!! Kira-kira pesannya seperti itu.

Sambil menunggu respon masyarakat, kontes-kontes, pameran, seminar, publikasi terus berjalan. Harga akan terus naik dan naik hinggak tak masuk akal. Disinilah muncul hobiis asli, kolektor, pebisnis baru dan spekulan. Mereka tanpa sadar akan terlibat sehingga modal untuk promosi pebisnis utama menjadi agak rendah. Semakin hari masyarakat akan dibuat kagum. Semakin banyak yang penasaran dan tertarik, semakin berhasil strateginya. Akhirnya pasar berhasil dibuat sekaligus menciptakan harga.

Saatnya Jualan

Kini tiba saatnya pebisnis akan menikmati hasilnya. Mereka siap jualan. Jelas saja mahal, ikan louhan tidak tersedia bebas. Untuk memperoleh ikan tersebut harus menghubungi dan membeli dari pebisnis utama. Mungkin sebagian pembaca pernah ikut-ikutan membeli ikan louhan saat itu.

Sementara pebisnis utama sudah siap mendistribusikan ikan-ikan tersebut. Laris manis bagai kacang goreng. Ikan louhan anakan dihargai minimal 25 ribu per ekor ! Padahal ikan bandeng yang lezat sekilonya cuma 7 ribu. Luar biasa.

Semakin banyak pembeli maka ada ancaman baru. Ikan Louhan sangat mudah diternakan. Taruh sepasang di akuarium, lama-lama akan berkembang biak dengan sendirinya. Ketika tahap ini, pebisnis utama sudah siap dengan strategi baru. Pebisnis mulai mengklasifiasikan, membuat kelas-kelas, kualitas, nama-nama, varian baru hingga varian aneh. Terakhir, ketika pasar jenuh muncul ikan berbentuk aneh. Padahal ini ikan cacat dan sengaja dibuat cacat agar unik.

Jangka Waktu

Bisnis seperti ini ada titik jenuhnya, dan ini sudah dipertimbangkan sejak awal. Ketika setiap rumah sudah memelihara louhan. Semakin banyak yang mengembang biakkan, maka bisnis harus berhenti. Biarkan orang lain, pemain baru, spekulan, kolektor dan hobiis yang melanjutkannya. Untung besar sudah ditangan.

Jangka waktu bisnis Louhan juga terjadi untuk Anthurium. Keduanya memiliki pola yang sama. Pertama belum dikenal, kemudian orang tahu, lalu populer, kemudian booming, akhirnya hilang.

Ilustrasi Bisnis

Misalnya saya punya uang 2 milyar yang saya gunakan untuk pembuatan peternakan dan impor louhan. Kemudian saya akan membayar media masa, mengadakan pameran, kontes, workshop budidaya louhan, hingga memodali ‘pembeli’.

Ketika booming, harga akan meroket tanpa kendali dengan bantuan hobiis, kolektor, dan spekulan. Ada seekor ikan louhan dibanderol 1 milyar rupiah ! Itupun ada yang beli ! Saya mengikutinya karena saya berlangganan majalah Trubus dan sempat jeblok ketika membeli louhan. Waktu itu Saya membeli dua ekor louhan masing-masing seharga 600 ribu. Menurut teman, di tempatnya harga yang jenis tersebut bisa mencapai 1,5 juta per ekor. Hmmm… Peluang nih, pikir saya. Ketika akan dijual hanya dihargai 250 ribu ! Alasannya, ada tanda hitam dibawah matanya. Katanya itu louhan menangis, nggak bawa hoki. Maksut loh !!! Jadi deh rugi. Akhirnya sih dijual rugi, yang seekor lagi ditukar dengan kucing .anggora. Beeuucchh… Mau untung malah buntung.

Tips

Kalau mau bisnis atau spekulasi di bisnis seperti ini jangan terlalu lama. Cukup dua atau tiga kali transaksi saja. Tapi awalnya lihat dulu trendnya. Anda ada dibagian mana dalam bisnis ini. Kalau baru mulai, okelah, tapi kalau sudah mendekati anti klimaks, sebaiknya jangan ikutan.

Pelajari produknya. Ikan Louhan dan anthurium mudah dikembang biakan, artinya suatu saat produksi akan melimpah dan harga anjlok. Jadi pilih produk yang lebih stabil. Contohnya Koi, Arwana, Adenium. Ketiga produk terakhir lebih menarik, karena susah dan tidak bisa asal-asalan.

Tips ini berlaku juga untuk bisnis MLM, PULSA, BENSIN, ARISAN BERANTAI dan sejenisnya. Semoga tulisan ini bermanfaat. Salam. - ....... SUMBER "

Jelas ulasan ini sebenarnya memberikan gambaran nyata bagaimana dengan strategi "nakal" terhadap image, harga dan trend  bisa menjadi senjata ampuh untuk menciptakan pasar.

Berani mencoba ? Harus punya modal besar juga kaleee


Sekian

Masih Niat Sekolah Di Indonesia ?

Tertarik dengan perbedaan sistem pendidikan yang begitu nyata antara Indonesia dengan Finlandia.

Berikut ulasannya :
1) Finlandia : Anak-anak baru bersekolah setelah mereka berusia 7 tahun.
Indonesia : ada playgroup, TK A, TK B, bahkan sebelum umur 3 tahun pun sudah ada yang ‘menyekolahkan’ anaknya, meskipun memang cuma satu jam dengan tujuan anaknya bersosialisasi. Masalahnya lagi, untuk masuk SD pun sekarang anak-anak DIHARUSKAN sudah bisa membaca. Ada tes masuknya. Jadi ingat percakapan ibu-ibu di commuter line yang curhat soal hal ini. Yang stres bukan cuma anaknya. Orang tuanya lebih lagi.

2) Finlandia : sebelum mencapai usia remaja, anak-anak ini jarang sekali diminta mengerjakan pekerjaan rumah DAN tidak pernah disuruh mengikuti ujian.
Indonesia : TK pun sekarang sudah punya pekerjaan rumah, meskipun cuma sekedar menebalkan garis dan menulis angka.

3) Finlandia : hanya ada satu tes yang wajib diikuti oleh pelajar, dan saat itu mereka berusia 16 tahun.
Indonesia : masuk SD pun ada tesnya. Terutama SD favorit.

4) Finlandia : sekolah tidak membedakan anak yang pintar dan kurang pintar. Seluruhnya ditempatkan di dalam ruang kelas yang sama.
Indonesia : ada beberapa sekolah yang memberlakukan pembagian kelas berdasarkan tingkat intelegensia anak. Contoh : peringkat 1-10 masuk ke kelas A, 11-20 kelas B, dst.

5) Finlandia : Kesenjangan antara murid terpintar dan murid paling tidak pintar di Finlandia adalah yang terkecil di dunia. Artinya, murid paling tidak pintar pun masih terhitung pintar.
Indonesia : kesenjangan begitu terlihat, banyak siswa pintar, yang kurang pun banyak.

6) Finlandia : Setiap guru hanya menghabiskan waktu 4 jam sehari di kelas dan punya waktu 2 jam per minggu yang didedikasikan untuk ‘professional development’.
Indonesia : para guru di Indonesia yang bisa mengajar mulai jam 7 pagi sampai jam 3 sore non stop. Imagine how tired they are

7) Finlandia : Jumlah guru yang dimiliki oleh Finlandia sama dengan jumlah guru di New York, namun jumlah murid yang ditangani jauh lebih sedikit.
Indonesia : Jumlah guru dibandingkan murid sangat jauh, dalam 1 kelas biasa terdapat 35 murid, dan 1 guru.

8) Finlandia : Seluruh sistem pendidikan didanai oleh negara. Gratis total.
Indonesia : meskipun sudah ada beberapa wilayah yang menetapkan pendidikan gratis, masih banyak pungutan2 yg harus dibayar siswa kepada sekolah, seperti uang Lab computer, Lab bahasa, dll.

9) Finlandia : Seluruh guru harus memiliki gelar Master/S2 yang didanai seluruhnya oleh pemerintah.
Indonesia : guru harus mencari biaya untuk melanjutkan pendidikan sendiri, tak ada bantuan pemerintah kepada semua guru.

10) Finlandia : Kurikulum nasional hanya berlaku umum. Setiap guru (sepertinya) diberikan kebebasan mengembangkan metode pengajarannya.
Indonesia : Guru WAJIB mengikuti kurikulum dari pemerintah yang HAMPIR setiap 5 tahun berubah-ubah.

11) Finlandia :yang menjadi guru hanyalah yang merupakan 10 lulusan teratas di universitas.
Indonesia : para lulusan terbaik berprofesi sebagai apa ya? Dokter, pengacara, direktur, investasi dan saham, pegawai Pajak?

12) Finlandia : Status guru di masyarakat setara dengan status pengacara dan dokter. Katanya, kalau masuk ruang kelas di Finlandia, trus murid-muridnya ditanya, Siapa yang bercita-cita jadi guru? Seperempat nya akan mengangkat tangan.
Indonesia : Status guru ( apalagi non-pns) masih sering diremehkan, & dianggap pekerjaan yang kurang mencukupi kebutuhan hidup.

berbagai sumber*

Masih kita berdiam menghujat pemerintah untuk memperbaiki sistem pendidikan sekarang ini ? Saat nya kita melakukan perubahan paradigma ketimbang terus ngedumel
Lebaran usai... 

Lebaran telah usai, mari kembali ke kantor...

Tuesday, 13 August 2013

Maling Jasa Pengiriman Itu Bernama FEDEX INDONESIA

Sebagai pengguna jasa pengiriman, kita banyak mendapat berita pahit tentang buruknya jasa pengiriman yang dilakukan oleh perusahaan pengiriman barang yang kita percayakan. Lagi-lagi, kita mendapat pengalaman dari seorang blogger bagaimana buruknya pelayanan yang dilakukan oleh perusahaan pengiriman barang (walaupun katanya perusahaan kaliber dunia) yang bernama FEDEX Indonesia.

Pengalaman blogger tersebut asli saya copy dari blog beliau. Harapannya, sebagai konsumen ataupun yang akan menjadi calon konsumen menjadi bahan PELAJARAN untuk memilih jasa pengiriman yang layak agar tidak menjadi kerugian ke depannya.

Check this out !


  1. Membuat persetujuan menaikkan nilai barang delapan kali lipat tanpa memberikan konfirmasi kepada costumer, sehingga nilai tebus yang harus dibayar berjumlah enam kali lipat lebih dari yang seharusnya. Saya diwajibkan membayar Rp3.755.504 untuk menebus barang seharga Rp1.200.000.
  2. Costumer service yang sangat buruk dan sama sekali tidak ada usaha menindaklanjuti komplain costumer.
  3. Membiarkan costumer menunggu hingga lebih dari satu jam tanpa diberikan pelayanan apa pun, bahkan hingga lima jam rapat tamu tidak disuguhi air putih.
  4. Atasan yang tidak mau menemui costumer dengan alasan sedang keluar mencari makan dari siang berjam-jam dan tidak kembali ke kantor hingga sore.
  5. Tidak dapat memberikan data-data yang costumer inginkan sebagai transparansi dengan alasan yang tidak jelas.

lima alasan di atas cukup membuat saya sangat kecewa dengan jasa FEDEX Indonesia. Lebih detailnya, silahkan baca kronologi masalah di bawah ini.

______________________________________________________________________________


Suatu hari saya ingin membeli asesoris kamera yang tidak dijual di Indonesia. Barang tersebut produksi Korea Selatan. Karena saya tidak memiliki kartu kredit untuk melakukan pembelian, jadi saya meminta tolong rekan saya bernama Arie yang memiliki kartu kredit, kebetulan ia tinggal di Jepang.
Arie melakukan pembelian asesoris kamera tersebut secara resmi dari produsennya. Barang dikirim menggunakan FEDEX dari Korea Selatan ke Jepang, beberapa hari kemudian, FEDEX Jepang menelepon Arie untuk janjian ketemuan, barang tersebut selamat sampai di tangan Arie dalam waktu singkat tanpa ada masalah. Pelayanan FEDEX Jepang sangat memuaskan.
Barang tersebut dikirim kembali dari Jepang ke Indonesia juga menggunakan jasa FEDEX. FEDEX Jepang menyamakan nilai barang seperti yang dituliskan dari KONOVA, yaitu $120 atau setara Rp1.200.000. Karena packingnya yang cukup besar sehingga Arie dikenakan biaya pengiriman sebesar 23.428 Yen atau setara Rp2.342.800.
Pada 2 Agustus 2013, saya menelepon FEDEX menanyakan perihal barang saya. FEDEX mengatakan bahwa barang saya sudah sampai di Indonesia dan sedang diproses di Bea Cukai. FEDEX mengatakan akan menghubungi saya kembali untuk melengkapi dokumen (terkait harga dan sebagainya).
Pada 6 Agustus 2013, saya menerima telepon dari FEDEX yang menyatakan bahwa barang saya sudah ada di Pos FEDEX Pondok Pinang, dan saya wajib menebusnya dengan harga Rp3.755.000, harga yang sangat jauh di atas nominal. Saya sangat kaget mendengar nilai yang perlu ditebus itu.
Saya langsung menelpon costumer service FEDEX, saat itu saya berbicara dengan Mbak Virgin, saya menanyakan tentang harga tebusan yang tidak masuk diakal ini. Mbak Virgin kemudian mengirimkan email detail tagihan (hitung-hitungan) dari FEDEX RPX.
Dalam detail tagihan tersebut, harga barang $120 disulap menjadi $980 (dinaikkan delapan kali lipat) tanpa mendasar.
Invoice Resmi dari Korea
Nilai Pajak yang Harus Saya Tanggung
Setelah saya mencari tahu cara perhitungan bea masuk dari situs blog http://catatankecik.blogspot.com/2012/07/kalkulator-bea-masuk-dan-pajak-impor.html, memang kenaikkan nilai barang itu berdampak pada semuanya. Menurut perhitungan, seharusnya saya diwajibkan membayar pajak Rp506.000 saja, namun karena kenaikan harga, saya jadi harus membayar pajak Rp3.267.000 atau enam kali lipat lebih.

Hitung Bea Masuk dan Pajak Impor sebelum nilai barang dinaikkan.
Hitung Bea Masuk dan Pajak Impor setelah nilai barang dinaikkan
Selain itu, saya sampai sekarang masih tidak paham dengan pungutan baru dari FEDEX, logikanya saya sudah membayar mahal jasa FEDEX Jepang ke Indonesia memang untuk hal tersebut, kenapa harus ada pungutan baru lagi? handling charge? admin charge? bank charge? warehouse fee? dan lain-lain hingga berjumlah Rp488.504. Hal itu amat disayangkan karena tidak dapat dijelaskan oleh FEDEX. Mereka berkutat dengan kalimat, "itu adalah prosedur kami". Dan perlu diketahui bahwa FEDEX Jepang tidak memberlakukan pungutan seperti FEDEX Indonesia.

Ditambahan pungutan siluman dari FEDEX senilai Rp488.504
Saya menghubungi FEDEX dan berbicara dengan Mbak Virgin kembali, saya mengeluhkan soal kenaikan nilai barang secara sepihak ini. Kemudian Mbak Virgin menyuruh saya menghubungi pihak Bea Cukai langsung di Soekarno Hatta.

Karena saya tinggal di Bandung, dan Soekarno Hatta bukan lah jarak yang dekat untuk ditempuh, akhirnya saya menelepon Seksi Penyuluhan dan Layanan Informasi KPPBC Tipe Madya Pabean Soekarno-Hatta di 0215501309. Saya berbicara dengan operatornya (saya lupa dengan nama operator tersebut) dan menanyakan perihal ini.

Diskusi panjang lebar ditelepon terjadi, saya bisa menjelaskan ke Bea Cukai bahwa kalau pun barang saya dinilai under value, harga yang mereka tetapkan sangat lah berlebihan, apapun alasannya, karena harga di internet pun hanya $325. Jadi saya tidak paham dari mana angka tersebut ditetapkan. Tapi intinya pihak Bea Cukai tidak menerima keluhan, karena nilai barang tersebut sudah disepakati oleh FEDEX yang seharusnya juga berarti disepakati oleh saya sebagai pemilik barang. Beliau mengatakan, "jika anda ingin mengeluh, silahkan keluhkan hal ini ke FEDEX karena FEDEX tidak mengkonfirmasi anda dan menyepakati semuanya tanpa sepengetahuan anda". Mendengar penjelasan itu saya langsung ingat bahwa FEDEX pernah mengatakan akan menelepon saya untuk melengkapi dokumen Bea Cukai, namun hal itu ternyata dilewati oleh FEDEX sehingga saya tidak diberikan ruang negosiasi atau pun memberikan data-data yang saya punya. FEDEX dalam hal ini telah melangkahi saya dengan membuat persetujuan kenaikan harga barang delapan kali lipat dengan Bea Cukai. Saya amat menyesalkan hal ini.

Saya kembali menghubungi FEDEX, saat itu operator yang mengangkat bukan Mbak Virgin dan saya meminta dihubungkan kembali dengan Mbak Virgin karena saya tidak mau menjelaskan semuanya dari awal lagi. Saya gagal disambungkan dengan Mbak Virgin karena beliau tidak mengangkat teleponnya, akhirnya saya harus menjelaskan semuanya dari awal lagi, operator baru menanyakan nomor AWB kembali kepada saya, dan saya harus menunggu lebih dari 2 menit untuk mereka melakukan pengecekan nomor AWB tersebut dan hingga pulsa saya habis. Hal ini terjadi berulang-ulang dimana saya harus menjelaskan semua dari awal karena operator yang berganti-ganti dan pihak FEDEX tidak ada inisiatif sedikit pun melakukan follow up keluhan costumernya.

Saya kemudian berbicara dengan Mas Hakim mengeluhkan soal kenaikan harga tersebut, nada saya sudah semakin tinggi karena emosi. Saya meminta dokumen resmi dari Bea Cukai tentang kenaikan harga ini, saya tidak mau surat tagihan dari FEDEX saja, saya ingin semuanya transparan. Mas Hakim mengatakan akan memberikannya kepada saya. Namun dalam waktu 24 jam tidak ada kabar apapun dari FEDEX mengenai permintaan saya.

Interior Kantor FEDEX
Pada 7 Agustus 2013, saya ke Jakarta dan mendatangi langsung kantor pusat FEDEX di Pondok Pinang karena saya merasa keluhan melalui telepon tidak mendapatkan respon yang baik dan hanya membuang-buang pulsa.

Pertama, saya datang bersama kakak perempuan saya, Prista. Saya memberikan nomor AWB, kemudian barang dikeluarkan dari gudang dan diletakkan tepat di depan mata saya. Saya dimintakan KTP, saya berikan, kemudian mereka fotokopi KTP saya. Mereka menyodorkan semacam alat elektronik dan menyuruh saya tanda tangan. (dengan bodohnya) saya tanda tangan. Kemudian Prista menanyakan bagaimana kelanjutan masalah kami dengan FEDEX, "kami tidak setuju dengan angka yang dibebankan oleh FEDEX kepada kami? bisa kami bicara dengan yang berwenang?".

Akhirnya saya berbicara dengan Mas Bowo menjelaskan krologi masalah sedetail-detailnya dengan bukti invoice, data internet, kalkulasi pajak dan lain-lain. Mas Bowo memahami penjelasan saya dan mengakui bahwa FEDEX telah melakukan kelalaian dengan tidak menkonfirmasi kenaikan harga ke saya sebagai pemilik barang. Saya meminta ada keringanan untuk hal ini, karena apapun alasannya ini adalah kesalahan FEDEX yang sangat merugikan costumer. Mas Bowo meng-iya-kan dan akan berbicara ke atasan/manajemen untuk keluhan ini. Saya dan Prista pun meninggalkan kantor FEDEX itu.

Sesampainya di rumah (Jagakarsa). Tiba-tiba saya mendapatkan telepon dari Arie yang mengatakan bahwa tracking FEDEX di internet menyatakan bahwa barang sudah diterima oleh saya (karena tadi saya menandatangani). Saya panik, menghubungi Mas Bowo via telepon, beliau mengatakan data akan dirubah. Saya tunggu, data tersebut tidak berubah-berubah. Terpaksa saya kembali ke kantor FEDEX.

Sampai disana, saya menghubungi Mas Bowo berkali-kali via telepon dan SMS namun tidak ditanggapi.


SMS Saya ke Mas Bowo
Mereka terus mengatakan bahwa data sudah dirubah, namun di website tidak ada perubahan. "mungkin kalau di website berubahnya sedikit lama", kata salah satu dari mereka. Mereka pun menunjukan data yang mengatakan bahwa hal tersebut sudah di cancel melalui layar komputernya.


Bukti cancel
Saya sedikit bisa lebih tenang. Mas Bowo muncul sekitar setengah jam kemudian. Saya kembali mengingatkan FEDEX bahwa saya meminta dokumen resmi/asli terkait Bea Cukai. Setelah melewati perbincangan yang alot, akhirnya saya pulang dengan tangan kosong dan tanpa kejelasan,

Saya terpaksa harus menunggu 5 hari karena terpotong libur Idul Fitri.

Pada 12 Agustus 2013, saya kembali ke FEDEX pada pukul 11.00 WIB. Karena Mas Bowo sedang tidak bertugas, saya pun dipertemukan dengan Mas Rais. Saya dipersilahkan duduk di dalam sebuah ruangan kecil (yang mungkin memang disediakan untuk tamu). Saya menanyakan tindak lanjut masalah ini.

Muhammad Rais, Specialist
Mas Rais mengatakan FEDEX akan bertanggung jawab dengan menghilangkan handling charge senilai Rp250.000. Saya tidak terima karena angka tersebut sangat kecil dibanding nilai kerugian yang saya dapat akibat ulah FEDEX.

"Begini Mas Febian, prosedur internal kami adalah tidak perlu melakukan konfirmasi ke costumer jika pajak masih di bawah Rp3.500.000".

"loh, kenapa bisa begitu mas?"

"agar prosesnya cepat"

(dengan pernyataan tersebut justru timbul kecurigaan saya, kenapa angka tersebut tampak dibuat mendekati Rp3.500.000 namun tetap dibawahnya (Rp3.267.000). "Apa ada 'main-main' FEDEX dengan Bea Cukai? karena angkanya terlalu dibuat-buat". Namun saya nyatakan: itu hanya prasangka buruk dari saya sebagai costumer yang dirugikan.

"tapi yang saya permasalahkan bukan angka di bawah Rp3.500.000 itu mas, yang menjadi masalah adalah kenaikan nilai barang yang berkali-kali lipat dari pajak yang harusnya terbebani ke saya. Fedex telah melangkahi saya sebagai pemilik barang dengan tidak melakukan konfirmasi dan berujung saya rugi Rp2.760.000. Harusnya jika pun barang ini tidak kalian tebus, saya bisa mengurusnya sendiri ke bea cukai dan tentu tidak akan keluar angka sedemikian besar"

"tapi itu keputusan dari Bea Cukai Mas"

Saya berada di posisi yang membingungkan, ketika saya mengeluh ke Bea Cukai, mereka tidak menerima keluhan saya dan menyuruh saya mengeluh ke FEDEX. Ketiga saya berbicara dengan FEDEX, mereka terus berlindung dengan nama Bea Cukai. Di mana posisi saya sebagai yang punya barang.

"saya paham hal itu Mas Rais, Bea Cukai memang punya hak merevisi nilai barang, silahkan selama itu masih rasional, tetapi saya sebagai warga negara juga punya hak diberikan ruang negosiasi, apalagi dengan kenaikan harga yang delapan kali lipat ini, harusnya anda sebagai perusahaan profesional tidak melangkahi saya"

Diskusi saya dengan Mas Rais sangat alot, Mas Rais berbicara kalimat yang diulang-ulang, tidak berbeda dengan diskusi saya lima hari lalu dengan Mas Bowo.

Karena masalah ini sudah sangat menguras waktu dan pikiran, akhirnya saya mencoba rela membayar nilai tebusan tersebut dengan dua syarat. 1) surat resmi dari FEDEX yang menyatakan bahwa FEDEX bersalah 2) dokumen resmi dari bea cukai yang sudah saya minta kan sejak seminggu lalu.

Ruang Rapat
Mas Rais meninggalkan saya di ruangan tersebut untuk berbicara dengan atasan dan membuat surat yang saya minta. Saya melihat jam di HP saya, saya mencatat pertama kali Mas Rais meninggalkan saya pukul 11.48 WIB. Saya terus melihat jam, hingga jam 13.00 Mas Rais belum juga selesai, jadi saya sebagai costumer yang complain dibiarkan menunggu lebih dari satu jam tanpa konfirmasi dan tanpa disuguhi air putih. Akhirnya jam 13.15 Mas Rais kembali. Emosi saya sudah sangat meningkat karena diperlakukan seperti itu oleh FEDEX.

"Perusahaan anda sangat tidak profesional Mas Rais, costumer anda dibiarkan menunggu lebih dari satu jam tanpa konfirmasi, bahkan anda atau siapa pun disini tidak menyuguhi costumer anda air minum"

"Maaf mas, mas mau minum?"

saya tidak menjawab tawaran tersebut. Karena hal itu memang seharusnya inisiatif terhadap tamu, siapa pun tamu itu.

Mas Rais tidak bisa memberikan kepada saya bukti dari Bea Cukai dengan alasan hal tersebut harus dibicarakan dengan orang clearance. Saya sudah lelah menagih bukti Bea Cukai. Kemudian Mas Rais menunjukan surat yang telat dibuat. Saya dengan tegas mengatakan surat tersebut tidak sah, karena tidak menunjukan kesalahan apa pun dari pihak FEDEX, melainkan hanya pembelaan dengan mengatakan angka di bawah Rp3.500.000 tidak perlu konfirmasi.

Saya menyuruhnya revisi, karena dalam surat tersebut juga terdapat kesalahan nama, dari Arie Naftali menjadi Arce Haffali dan Nurrahman menjadi Nurranman. Saya khawatir surat tersebut menjadi tidak valid jika dibutuhkan nanti. Mas Rais meninggalkan saya untuk revisi hingga setengah jam.

"Baik Mas Rais, seperti yang saya katakan sebelumnya, saya akan menanggung kerugian ini, tetapi saya hanya ingin menebus sebesar Rp2.000.000, artinya mohon FEDEX memberikan kami keringanan Rp1.267.000, karena bagaimana pun ini adalah kesalahan perusahaan anda"

"tidak bisa Mas Febian, dari manajemen kami hanya memberikan keringanan Rp250.000 di handling fee, itu sudah besar"

"Bagaimana bisa, saya dibebani angka Rp2.760.000. Pertanggung jawaban dari perusahaan sebesar FEDEX hanya senilai Rp250.000, dan costumer anda tetap terbebani harga Rp2.260.000?". Benar-benar tidak rasional, demi uang perusahaan ini rela mempertaruhkan nama baiknya di depan costumer.


Surat pernyataan kesalahan FEDEX Indonesia dan hanya menanggung Rp250.000
"kalau begitu saya ingin berbicara ke atasan anda, karena kalau saya berbicara dengan Mas Rais tidak akan ada jalan keluar karena anda bukan pembuat keputusan, ini jalan buntu bagi saya dan Mas Rais."

"tidak bisa Mas Febian, saya di sini yang sedang on duty"

Saya terus menekan Mas Rais untuk mempertemukan saya dengan atasannya. Karena setiap saya mengajukan suatu pertanyaan atau pun pernyataan, Mas Rais selalu meninggalkan saya di ruang rapat dengan alasan ingin meminta konfirmasi dari atasan dan hal itu benar-benar menguras waktu saya. Sekali lagi, Mas Rais kembali meninggalkan saya untuk memanggil atasannya. Saya menunggu lebih dari setengah jam untuk kesekian kali nya masih tanpa disuguhi apa pun.

Mas Rais kembali dengan mengatakan atasan sedang keluar mencari makan. Pembicaraan kembali alot hingga jam 16.00 WIB, ternyata saya berada di kantor FEDEX sudah lima jam dengan pelayanan yang sangat tidak profesional.

Saya menekan untuk kedua kalinya ingin berbicara dengan atasannya, namun Mas Rais mengatakan atasannya belum kembali ke kantor.

"ini jam kantor Mas. Bagaimana atasan anda tidak berada di kantor pada jam segini? Siapa nama atasan Mas Rais", saya disitu merasa sangat tidak dihargai oleh FEDEX Indonesia.

"saya tidak bisa menyebutkan namanya mas"

"apa alasannya Mas Rais tidak bisa menyebutkan nama atasan Mas Rais?"

sampai akhirnya Mas Rais menyebut dua nama; Ibu Tiur dan Bapak Ade. Orang-orang berwenang yang tidak mau menemui saya.

Saya sudah terlalu banyak mengorbankan pikiran dan emosi sampai akhirnya saya benar-benar menyerah dengan akan menebus angka yang diinginkan oleh FEDEX karena barang akan saya gunakan dalam waktu dekat (tanggal 14 Agustus 2013 sudah harus saya gunakan). Saya membayar Rp3.506.000 (angka yang sudah dikurangi kebijakan FEDEX handling free Rp250.000).

Kemudian masalah baru muncul, karena saya tidak mau menandatangani surat persetujuannya.

"Kami tidak bisa memberikan barang kalau Mas Febian belum tanda tangan"

"saya sudah bayar angka yang anda inginkan, sekarang anda memaksa saya menandatangi hal yang tidak saya setujui Mas Rais"

"tapi prosedur kami barang tidak boleh diserahkan sebelum costumer tanda tangan"

"FEDEX juga tidak mengikuti prosedur menghubungi saya tentang kenaikkan harga. Kenapa sekarang saya harus mengikuti prosedur anda? Mohon maaf, saya tidak mau tanda tangan mas, karena saya dari awal tidak setuju dengan angka tersebut dan saya pasti akan mempermasalahkan hal ini kemudian hari".

Karena kewajiban tanda tangan itu, akhirnya saya tanda tangan diselembar kertas (bukan di mesin) dengan menuliskan bahwa saya tidak pernah setuju dengan angka yang dibebankan FEDEX kepada saya, tanda tangan hanya bukti bahwa barang sudah saya ambil.
Berkas Pengambilan Barang
Setelah kejadian ini, kepercayaan saya terhadap FEDEX khususnya FEDEX Indonesia sudah tidak ada, saya sangat dirugikan materi, waktu dan pikiran. FEDEX tidak memberikan pelayanan yang baik terhadap costumernya. Dan sekali lagi, FEDEX tidak mau bertanggung jawab untuk kesalahan yang sudah diakuinya.
Setelah saya mencari tahu di internet, masalah ini bukan yang pertama kalinya, nampaknya hal ini sudah menjadi hal yang biasa untuk FEDEX Indonesia.

Untuk FEDEX Indonesia, mohon dengar keluhan costumer kalian.



Salah satu bukti lagi ketidak profesionalan FEDEX Indonesia:
menggunakan kertas bekas untuk print berisi alamat-alamat costumernya yang seharusnya menjadi privasi costumer, dan diberikan ke saya.


 


SUMBER

Semoga bermanfaat

Tuesday, 6 August 2013

Marketing Jitu Ala Psikologi

1. Mahal = Bagus

Biar terkesan mahal, naikkan harganya terus kasih discount.

Pembeli merasa senang mendapat 'barang mahal' dan 'diskon' an.

Konsumen lebih senang membeli Kaos Rp 90.000 dengan disc 50 %, daripada membeli kaos seharga Rp. 45.000 tanpa diskon.

Baik diterapkan untuk toko busana, toko perhiasan, souvenir , cindera mata. Apalagi tokonya di mall, di bandara. Jangan ragu kasih harga mahal + diskon. Pembuatan diskonnya juga ada caranya.

Caranya dengan mengikutkan event- event tertentu :
' Dalam rangka........ ' ,
' Memperingati ..... kami berikan diskon ...'.

Contoh : ' lebaran dah dekat , baju baru, diskon gede'. ' Dalam rangka ulangtahun toko ke 100 kami berikan diskon 100 % *skb ' atau ' Dalam rangka ulang tahun kucing ...'

2. Timbal Balik

Berikan lebih dahulu maka anda akan diberi.
Misalkan anda mempunyai bengkel mobil, Gratiskan ongkos Ganti Olie, maka konsumen akan membeli olienya ditoko anda. Cek angin ban, bila kurang tambah anginnya sebagai free service .

Hal sepele namun memberi kesan lebih bagi konsumen. ' Angkringan Cak Manto, free Wifi '. Ada sebuah bengkel kaki-kaki yang sukses di jogja 'bengkel kaki-kaki Mas Pa'i, garansi 3 bulan (jogja) ' ramai, karena memberikan excellent service yang mampu digaransikan.

Apalagi dalam dunia IT, ada slogan " Gratiskan Daganganmu "Google, Yahoo bersaing untuk menggratiskan search engine, email account, map, Alibaba, Ebay portal retail dan wholesale gratis. Google, Yahoo, Alibaba, Ebay dan portal gratis lainnya dapet makan dari Iklan dan Fee, yang nilainya Milyaran.

3.Ikut-Ikutan Yang Penting Ramai Dahulu 


Pernah anda ikut-ikut sekedar ingin tahu ketika ada orang berkerumun menonton sesuatu ?
Ikut-ikutan lihat barang di Mall yang dikerumunin orang ?

Ikut-ikutan memperlambat jalan ngelihat kerumunan orang lagi nonton mobil kecemplung selokan ?
Itulah sifat manusia, ingin tahu saja. Jadi kalau Anda mau launching harus rame. Agar rame harus saat pembukaan harus Aneh, ada Penawaran, Menarik dan Dipercaya.

Anda bisa menggunakan strategi Mie + Teh Botol Rp. 7000, Beli emas dapet Payung seharga 40.000. Cuci Ulang Mobil Gratis, kalau besok hujan. Cuci mobil gratis. Biarkan antrian mobil yang mo gratis nyuci parkir diluar atau badan jalan yg akan jadi biang kemacetan. Maaf pak Polisi, ngajarin macet. Jadinya pengendara yang lain akan bertanya " Ada apa sih kok tumben macet? ... Ooo ada Gratisan Nyuci Mobil/Motor ya, ikutan ah". Gratis 1 Porsi Buat teman ke 4 mu. Beli 3 gratis 1. Keuntungan 3 Porsi makanan > dari harga 1 Porsi.

Nah, kalau rame orang datang, maka orang-orang yang tadinya cuman sekedar lewat jadi penasaran lihat kerumuman ditempat yang baru.

4. Perbandingan

Orang senang yang kecil dahulu.
Marketing, yang penting datang dulu (yang terkecil). Saya mau tanya tolong dijawab dari hati kecil yang paling dalam.

Pedagang Narkoba, coba dulu sedikiiit saja. Kalau sudah suka , akan kecanduan, kalau sudah kecanduan, harga berapapun dibeli.

5. Perbandingan Dan Keterbatasan

Relativitas mahal dulu baru yang Murah. Yang Sulit dulu baru yang gampang.

Dalam menawarkan produk, Tawarkan Yang Susah dahulu Baru yang Gampang.

Pengaturan Display toko atau autlet , display yang bagus dan mahal, barang yang dibelakang murah. Bisa juga ilmu perbandingan ini untuk menyuruh anak dengan memberi pilihan " Mau tidur jam setengah sembilan atau jam sembilan ?" bisa dipastikan milih jam sembilan. Nah kalau sudah jam sembilan, nggak usah diperintah hanya mengingatkan pilihannya sianak akan berangkat tidur sendiri. Dalam hal keterbatasan orang akan bersaing dengan keterbatasan. Rela antri untuk beli Tiket Bola Piala. Indonesia ... Indonesia ... Indonesia. Teknik lelang. Iklan " Dijual mobil Avansa 2010, harga awal 90 jt, tapi 75 jt saya jual " . Saya hanya bisa ditemui jam 17:30 s/d 18.00 di rumah, jl Angkasa 456.

Maka akan banyak orang yang datang. Karena banyak yang datang saya tidak enak untuk memilih salah satu diantara yang datang.

Maka sebagai jalan tengahnya yang berani memberi penawaran yang tertinggi dia pembelinya.

SUMBER

Monday, 29 July 2013

Bohong, Gimmick Dan Pemasaran

Pandangan saya di bulan puasa 1434 H tertuju pada tulisan seorang kompasianer melalui tulisan jadulnya yang berjudul : "Rela Bohong Demi Marketing Gimmick" .

Gimmick adalah strategi "bohongan" yang biasa dipergunakan oleh para pemasar untuk mencapai penjualan. Gimmick adalah hal yang lumrah terjadi.


Nah, berikut ulasan singkat dari artikel tersebut. :
Semua orang tahu, bohong iti dosa. Di kitab agama manapun menyebutkan, berbohong adalah perbuatan yang dilarang Tuhan. Namun dalam dunia marketing, (mohon maaf!) lupakan kata “dosa”. Kata “dosa” nggak ada dalam kamus marketing, cong! Segala cara dilakukan demi pemasaran produk. Hal ini dikatakan langsung oleh Praktisi marketing sendiri.

Sebenarnya gw bakal dibenci oleh para Marketer (istilah buat menyebut Praktisi marketing), kalo men-judge mereka sebagai kaum Pendosa. Soalnya mereka pasti akan mengelak kalo cara-cara yang mereka tempuh guna mencapai tujuan (baca: pemasaran produk), dianggap dosa. Padahal realita mayoritasnya, jualan mereka memang selalu hiperbola atau berlebihan. But kita tetap harus minta maaf atas tulisan ini.

Dengan berbagai cara, Marketer menjual produk A gokil-gokilan agar laku. Meski kehebatannya cuma sedikit, lewat mulut Marketer, produk A bisa luar biasa. Bahkan produk yang nggak punya kekuatan sekali pun, bisa jadi hebat.

“Ya, namanya juga marketing, bos! Maklumlah!”

“….”
Padahal menurut buku yang gw baca, marketing nggak cuma selling (aktivitas menjual) atau promotion, dan yang lebih sempit lagi marketing is advertising. Marketing bahkan dianggap cuma sebuah aktivitas sirkulasi dan distribusi. Oleh karena pengertian marketing yang salah, maka muncul istilah abuse of marketing atau penyalahgunaan marketing yang salah. Padahal ruang lingkup marketing itu luas. Sayang, yang dijalankan cuma separo-separo, yakni yang konvensional. Nggak heran unsur hiperbola dan melebih-lebihkan menjadi makan sehari-hari marketing.

Produk celana kolor yang sekali pake bisa kendor, bisa dijual dengan cara yang hiperbola. Tentu Marketer nggak akan menjual kehebatan celana kolor yang cepat kendor dong, bro. Hal itu adalah kelemahan. Teori menjual konon adalah mengedepankan kelebihan, meski kelebihannya dikit.

Dalam konteks celana kolor itu apa yang bisa dijual dong?

Ada istilahnya product knowladge. Nah, via product knowladge ini, Marketer jadi punya bahan buat menjual. Misalnya celana kolor itu buatan Amrik. Negaranya Barrack Obama ini bisa kita jual gokil-gokilan. Maklum, orang kaya kita kan masih American-minded. Begitu dengan nama Amrik, langsung klepek-klepek. Padahal belum tentu produk Amrik bagus punya, cong! Belum tentu juga celana kolor itu benar-benar produk asli Amrik. Siapa tahu asli Afrika Selatan?

Kalo dalam product knowladge di celana kolor itu menyebutkan antinyamuk, maka si Marketer akan menjual kehebatan celana kolor antinyamuk-nya itu. Misalnya, kalo udah nggak dipakai, celana kolor ini bermanfaat sebagai kelambu di tempat tidur. Sehingga, orang yang membeli celana kolor ini nggak perlu lagi gatel-gatel gara-gara dikerubutin nyamuk. Tag line celana kolor itu bisa jadi 2 in 1, yakni sekali beli ada dua manfaat sekaligus.

Dalam marketing ada juga aktivitas menggunakan gimmick, makanya lazim disebut marketing gimmick. Binatang apa pula ini? Dalam dunia broadcast, gimmick biasanya adalah sebuah “bumbu-bumbu” biar sebuah program segar, lebih entertaint, dan nggak monoton. Sebuah program talk show pasti bakal nge-BT-in audience-nya kalo nggak ada balutan gimmick. Gw nggak menjelaskan panjang kali lebar kali tinggi soal gimmick di program televisi, soalnya kali ini kita bicara soal marketing. Ya nggak cong?
Marketing gimmick ini sekarang lagi happening. Maksudnya, aktivitas ini sedang dilakukan oleh banyak Marketer. Elo pikir kasus pencolekan pantat Kiki Fatmala oleh Saipul Jamil ketika mereka main di film Pijat Atas Tekan Bawah itu bukan sebuah rekayasa? Menurut loe kabar Aura Kasih yang sempat dikabarkan pacaran dengan Bams Samsons benar-benar terjadi?

Biasanya marketing gimmick dilakukan dalam dunia musik dan film. Kenapa? Menurut Garin Nugroho dalam sebuah kesempatan di Novotel, Bogor mengatakan, masyarakat Indonesia adalah masyarakat gosip. Bukan masyarakat data. Jadi lebih percaya gosip daripada data atau angka. Yang namanya gosip itu lekat dengan dunia entertainment. Ada juga sih di dunia politik dan ekonomi, namun dunia entertainment lebih berperan besar. Nggak heran kalo program-program infotainment dari dulu sampai sekarang tetap populer, ya nggak?

Lewat program infotainment, marketing gimmick biasa dilakukan. Producer Film atau Musik menggulirkan “kabar bohong” demi pemasaran filmnya. Reporter berlomba-lomba mengungkapkan “kabar bohong” itu pada audience, sehingga audience jadi tahu. Mending kalo yang menggulirkan Producer-nya sendiri, kalo ada Reporter infotainment yang mengajukan diri buat mengabarkan “kabar bohong” (baca: create a rumour) asal dibayar, ini makin gila aja, ya nggak?

“Pembohongan masyarakat namanya!”

Namanya juga masyarakat gosip, ada yang percaya, ada yang nggak. Sebenarnya lebih banyak audience yang nggak percaya. Kok bisa? Para penikmat infotainment nggak bodoh-bodoh amat tahu?! Sayangnya mereka ini aneh. Kenapa aneh? Yaiyalah, udah tahu kabar di infotainment itu bohong atau cuma gosip, eh tetap aja ditonton. Tapi nggak semua kabar diinfotainment hasil rekayasa, lho atau sedang melakukan marketing gimmick.

Kalo Producer atau Marketer yang jago, bisa mengolah marketing gimmick mirip kayak aslinya. Artinya, nggak kelihatan kabar yang sebenarnya bohong itu kayak kabar rekayasa. Itu kalo Producer dan Marketer jago. Tapi kalo tolol, marketing gimmick terlihat rekayasa.

“Bohongnya ketahuan!”

“Apalagi kalo yang mau dibohongi itu Pembohong, wah sebuah marketing gimmick bisa gagal….”
Gara-gara aktivitas marketing gimmick, kabar jadi seringkali dicurigai. Terutama kabar di infotainment, lho. Ada kabar soal soal Selebritis A yang baru main film berseteru dengan Selebritis B, dianggap rekayasa. Ada penyanyi B yang baru mengeluarkan album mengajukan gugatan cerai, dianggap bohong beritanya. Padahal kabar belum tentu bohong semua. Kabar yang beredar belum tentu merupakan bagian dari marketing gimmick.

Apakah perseteruan MUI dengan Sutradara Hanung Bramantyo ketika film Perempuan Berkalung Sorban itu berita berita benar atau berita bohong? Apakah pemberhentian program Perspektif yang dipandu Wiman Witoelar itu rekayasa atau bukan? Ini juga terjadi pada program-nya Tukul. Apakah pencekalan Empat Mata yang kemudian diganti jadi Bukan Empat Mata dan sekarang dicekal lagi adalah bentuk marketing gimmick atau memang benar-benar hasil perintah KPI?

“Cuma stasiun televisi dan Tuhan yang tahu!”

Ada kisah lucu soal marketing gimmick. Sesuatu yang awalnya di set up sebagai sebuah rekayasa bisa berubah jadi kisah nyata. Ini terjadi pada perseteruan Dewi Persik dan Andi Soraya. Mereka sebenarnya diminta Producer film Kutunggu Jandamu cuma membuat kehebohan demi marketing gimmick, demi supaya filmnya laku. Namun ejek-mengejek yang dilancarkan Persik dan Soraya malah berbuntut panjang alias jadi keterusan berantemnya. Dalam kenyataan, dua janda itu benar-benar “perang mulut” dan berantem, cong! Dasar janda!

Terlepas dari soal hiberbola atau masalah kebohongan, kalo marketing gimmick memang mau diaplikasikan dalam pemasaran sebuah produk, kudu diikuti oleh hal lain. Hal yang dimaksud, misalnya kualitas film yang di-marketing gimmick-kan keren punya. Cerita film itu luar biasa. Nggak cuma mengandalkan materi pemain yang populer. Soalnya, kalo marketing gimmick udah berhasil tapi nggak diikuti oleh kualitas produk tersebut, bakal sia-sia. Kalo nggak film itu pemutarannya gagal alias nggak meraih jumlah penonton yang signifikan, ya nama-nama Pemain film-nya bisa di-blacklist.-

Kembali ke blog saya ya :)

Saya melihat tren gimmick hanyalah sebuah pedang bermata dua. Jika salah sedikit, maka bisa menjadi fatal akibatnya seperti yang diulas oleh penulis kompasiana di atas.

Bulan ramadan 1434 H juga merupakan momen para marketer untuk menjaring lebih banyak konsumen dengan tren konsumtif yang biasa terjadi. Nah, momen inilah konsumen setelah di "gimmick"-an, semakin diperangkap oleh tren. ckckckckckkckckck

Kita sebagai marketer yang memiliki hati nurani, hendaklah kembali kepada perilaku Nabi Muhammad SAW sebagai contoh nyata marketer sejati dengan predikat Al Amin, orang yang dipercaya dalam perniagaannya dan sebagai manusia yang sukses memasarkan religion-Islam-. Beliau sukses menjalankan startegi "Marketing Honest" tanpa embel-embel gimmick tadi.

Membangun brand yang jujur memang sangat berat diawal. Butuh kesabaran, komitmen, pantang menyerah dan semangat inovasi tepat guna.



Perangkap Pemasaran Bulan Puasa Ramadan



Ramadan 1434 H telah tiba. Yang selalu membuat kita pusing adalah kenaikan harga barang-barang, konsumen semakin konsumtif dan segelintir orang memanfaatkan momen Ramadan untuk mendulang fulus lebih besar. 


Ekonomisasi Ramadan

Kecenderungan tersebut ditangkap juga oleh Huffington Post yang baru-baru ini menurunkan artikel mengenai gejala peningkatan belanja Ramadan yang terjadi di Amerika Serikat dalam beberapa tahun belakangan ini (edisi 8 Juli 2013). Jumlah kaum muslim di AS yang meningkat dua kali lipat, kini 2,6 juta jiwa, dalam dua dekade terakhir ini menyebabkan konsumsi produk yang berhubungan dengan kebutuhan kaum muslim meningkat, terlebih di bulan Ramadan.

Peningkatan serupa terjadi juga di banyak negara muslim atau negara dengan mayoritas penduduk muslim. Sejauh ini hal tersebut masih dibantah sebagai upaya ekonomisasi Ramadan oleh sejumlah entrepreneur muslim di Amerika Serikat dan negara berpenduduk mayoritas muslim lainnya.

Mereka masih menganggap fakta-fakta yang mengarah pada ekonomisasi dari pelaksanaan Ramadan tersebut sebagai anugerah dalam bulan Ramadan. Terlepas dari debat itu, patut dipikirkan dalam-dalam peran marketing dalam mengemas semua kebutuhan Ramadan dan lebaran yang membuat konsumen tergoda untuk berbelanja.

Perangkap Marketing

Perkembangan teknologi informasi yang terbuka lebar dan melintas batas negara, memberikan pengaruhnya dalam berbagai hal. Termasuk di dalamnya dalam pemasaran produk yang berhubungan dengan kebutuhan Ramadan. Produk dikemas apik dengan pendekatan bahasa yang beragam untuk menyasar target yang juga bervariasi.

Bila tak jeli, konsumen akan terbawa dalam “perangkap marketing”. Huffington Post menyebutkan bahwa dari catatan Pan Arab Research Centre tiga tahun lalu, belanja iklan di Mesir melonjak hingga USD142 juta, atau meningkat tiga kali lipat dibandingkan bulan lain di luar Ramadan pada tahun itu. Paket-paket ziarah ke Tanah Suci pada Ramadan juga banyak dikomunikasikan dan tercatat amat laris.

Padahal, paket Ramadan ini mencapai titik cost tertingginya yang melipatgandakan transaksi yang mengiringinya, mulai biaya transportasi, akomodasi, sampai biaya belanja oleholeh. Walaupun belum dijumpai rilis resmi, secara kasat mata dapat dilihat belanja iklan di Tanah Air juga meningkat pesat selama Ramadan. Iklan produk bernuansa Ramadan bermunculan dalam berbagai media iklan yang ada.

Para pemasang iklan pun merentang lebar jenis bisnisnya, mulai produsen produk konsumsi hingga berbagai yayasan yang mengelola zakat dan sedekah. Semua seakan turun gunung untuk beriklan. Patut diduga bahwa pengalaman beriklan tahun sebelumnya memberikan dampak signifikan terhadap respons pasar atas produk. Akan sangat sayang bila kesempatan untuk merebut pangsa pasar melalui iklan diabaikan begitu saja pada tahun ini dan tahun berikutnya.

Dari sisi konsumen, peningkatan transaksi sejalan dengan peningkatan kebutuhan pada Ramadan dapat dianggap wajar sekaligus tidak. Wajar karena orang merespons Ramadan sebagai sebuah berkah yang disambut gembira. Menjadi tidak wajar dan tidak disarankan karena agama Islam mengajarkan kesederhanaan, termasuk dalam bulan Ramadan.

Selanjutnya, gelombang ekonomisasi ini kelihatannya tidak akan terbendung. Akan terus berjalan seiring dengan semakin terbukanya arus teknologi komunikasi dunia. Bentuk bujukan iklan sebagai upaya pemasaran suatu produk akan terus bermunculan. Diperlukan kebijakan konsumen dalam merespons semua itu.

Dalam konteks Ramadan, konsumen muslim patut mencermatinya dengan seksama sehingga tidak terbawa arus dan menjadi bermegahmegah secara tidak pada tempatnya. Bukankah Islam menghendaki Ramadan sebagai sebuah oase untuk merenungkan makna hidup ini dan bercakapcakap lebih banyak dengan-Nya. Selamat menunaikan ibadah puasa Ramadan!

SAFRITA AYU HERMAWAN
Praktisi Komunikasi dan Marketing


(Koran SINDO//wdi)

SUMBER